Tuesday, February 25, 2014

Pengunjung wedangan OMAH LODJIE

Membicarakan wedangan Omah Lodjie serasa tidak ada bosannya, wlaupun sudah pada pulang ke Jakarta, Surabaya, bahkan luar pulau serasa merindukan suasana indahnya wedangan yang lain dari pada yang lain. Berkontempelasi tentang Omah Lodjie, akan diajak ke alam tempo dulu yang dibalut bangunan batu kokoh dan atapnya tinggi, halaman luas serta adem udaranya.
Solo yang banyak didominir peninggalan keraton Surakarta Hadiningrat dan Mangkunegaran diwarisi rumah-rumah besar atau bangunan loji.


Wedangan yang sejak dibuka beberapa hari lalu tepatnya pada tanggal 15 Pebruari 2014 sebenarnya bertepatan dengan Valentine atau Hari Kasih Sayang, para pendiri juga menyediakan coklat bentuk hati. Bagi pengunjung pria diberikan oleh pendiri wanita, bagi pengunjung wanita diberikan oleh pendiri pria.










Saat sekarang pengunjung yang dulu tinggal di Solo mudik atau yang pernah kuliah di Solo bernostalgia di WOL (Wedangan Omah Lodjie) memberikan kesejukan hati tersendiri, sambil mendengarkan musik orgen tunggal yang setiap malam disediakan bagi para pengunjung, sambil menikmati hidangan wedangan ala khas Solo.

                          Tanaman dan Rumput nan hijau menyejukkan suasana

Monday, February 24, 2014

Wedangan OMAH LODJIE Solo

Rencana tanggal 14 Pebruari 2014 Wedangan Omah Lodjie akan dibuka atau istilah kerennya diadakan Grand Opening namun apa hendak dikata Gunung Kelud meletus pada malam 13 Pebruari jam 23.30 WIB. Maka acara terpaksa diisi dengan membersihkan debu siang dan malam. Para pendiri yang siang itu hadir dari Jakarta dan Solo mengadakan bincang-bincang yang dipimpin oleh komisaris Wedangan Omah Lodjie yang bernama August Pramono seorang pengusaha di Solo biasa disapa Oetje. Briefing sekaligus tukar pandangan serasa keluarga besar yang merindukan sesuatu pertemanan sejati, suasana diskusi mengalir seperti ketulusan tiap pendiri wedangan Omah Lodjie.
Nama yang diambil dari sebuah bangunan batu kokoh di wilayah
Karesidenan Surakarta atas perenungan salah satu pendiri sekaligus sebagai direktur CV. Wedangan Omah Lodjie sebut saja Patmanto orang asli Punggawan Solo. Bangunan Wedangan Omah Lodjie yang asli peninggalan arsitektur nuansa Belanda, adalah rumah keluarga Oetje seluas kurang lebih 8000 m2 terletak di depan RSUD dr. Muwardi tepatnya di Jln. Kolonel Sutarto 159 Jebres, Solo. Kira-kira  sebelah barat  dengan kampus UNS yang bersandingan Bengawan Solo.
Wedangan ini menyediakan aneka jajanan asli Jawa mulai dari jadah, wajik, carang gesing, tahu bacem, tempe bacem, sate telor puyuh, sate kikil, ketan serundeng dll, juga nasi oseng, nasi sambal eyang puteri, nasi bandeng dll begitu juga tersedia aneka minuman wedang jahe jeruk, teh, jahe kopi dan aneka juice harga Rp. 3000- Rp. 5.000,- murah kan? ....
Fasilitas Free WiFi, music orgen tunggal dan parkir luas...mewah kan?
Tempat duduk bisa memilih sesuai selera ada yang lesehan, out door lantai satu dan out door lantai dua. Uniq nya tangga yang tinggi namun tidak capai manapakinya.
                                                                                                                                                       

Sesuatu yang dimulai dengan hati bersih, niat baik akan membuahkan hasil yang baik, dan akan mengalir dalam pelayanan wedangan nan apik ujar para pemiliknya.
Konsep wedangan OMAH LODJIE ini sederhana dan tidak muluk-muluk, karena telah dijelaskan kerinduan berkumpul dari para pendiri untuk mewujudkan tali persaudaraan disaat masa usia paroh abad.
Mari mampir di wedangan Omah Lodjie nan asri mewah tetapi harga murah....:)

Monday, August 12, 2013

INFLASI, SAVING DAN MENURUNYA INVESTASI

Membaca peta perekonomian  dunia yang semakin sulit terprediksi, dimana Eropa dan Amerika Serikat adalah price maker karena menguasai tata ekonomi sebesar 40 persen. Artinya bahwa distribusi pendapatan warga dunia ditentukan oleh sehat dan tidaknya dua benua tersebut.Menurut berita yang dilansir oleh Delegation Of European Union Of Indonesia Maret 2013, hubungan ekonomi diantara mereka berdua juga terbesar di dunia. Maka impor dari negara lain apalgi negara berkembang akan selektif bisa diterima. Dan ketika dua raksasa ini sakit krisis perumahan di Amerika Serikat tahun 2008 dan Yunani dan Siprus 2010 di Eropa, maka dampak perlambatan ekonomi mulai tampak sejak pertengahan tahun 2012.


Asia secara tidak langsung juga mengalami imbas dari krisis keuangan tersebut, namun keberadaan negara-negara maju jilid global antara lain China, Jepang, Taiwan, Hongkong, Singapore, Korea Selatan dan lainnya, sedikit mengobati rasa sakit karena perlambatan ekonomi tersebut.

Lalu bagaimana dengan Indonesia yang kaya SDA dan SDM ini? Tercatat sebagai pengimpor bahan-bahan makanan, sehingga ketika impor bawang putih, bawang merah, daging sapi dan lain-lain tersendat, maka harga-harga barang lainnya ikut menaik dan berjalan hingga saat ini. Tentang lonjakan harga-harga barang pokok tersebut membuat inflasi sebaesar 0,41 persen dari total inflasi Maret 2013 sebesar 0,63 persen atau mencapai 65 persen dari inflasi total selama kuartal pertama (Kompas.com maret 2013).


Impor bahan baku dan  alat-alat produksi yang jumlahnya cukup besar,70 persen dari nilai total jenis impor dan bahkan terstigma sebagai negara industri yang invalid karena sangat tergantung oleh bahan mentah dan setengah jadi dari impor. Meminjam istilah Prof. DR. Masngudi, negara industri yang demikian disebut semu, dan mudah tergoncang oleh instabilitas nilai tukar rupiah terhadap valuta asing. Keadaan ini secara terbuka diakui oleh Kadin Indonesia pada acara Focus Group Discussion  dalam penyusunan platform kebijakan industri nasional, di Hotel Bidakara, Jakarta, 19 Juni 2013.

Perjalanan waktu terus bergulir, kepercayaan masyarakat terhadap keamanan menyimpan dananya di Bank mulai berkurang, bahkan banyak yang melakukan penarikan uang untuk dibelanjakan, semakin membuat inflasi merangkak naik. Kondisi ini akan mempengaruhi Mikro ekonomi karena industri nasional mendapat tekanan biaya produksi tinggi (Upah, Listrik dan BBM) yang pada akhirnya rencana perluasan usaha stagnan atau macet, karena likuiditas Perusahaan terganggu, apalgi suku bunga pinjaman ikut naik?

Dua dilema bagi Bank Indonesia Pertama Saving menurun maka Bank-bank komersial akan menaikan suku bunga simpanan (tabungan, deposito) disisi lain karena harga-harga semua barang termasuk SDM menaik menjadikan cost of production naik, meningkatkan suku bunga pinjaman lebih besar dari suku bunga tabungan akan semakin menurunkan Investasi yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional.

Maka pada kondisi sekarang yang masih bisa dilakukan adalah Kementrian Perdagangan melakukan stabilitas harga barang khususnya yang dari impor dan jangka panjang bersama Kemenko Perekonomian ke transformasi Pertanian ke Agrobisnis tidak setengah-setengah misalnya infrastruktur buruk, pupuk mahal dan lain lain. Ke dua BI bisa melakukan himbauan sampai bersahsil agar selisih bunga pinjaman dan bunga tabungan/deposito tidak terlalu lebar, kalau perlu bunga pinjaman tidak naik. Kemudian GWM bisa di naikkan untuk mengurangi uang beredar.

Semoga inflasi pasca Lebaran dan menjelang hutang luar negeri yang jatuh tempo apakah direct import atau bunga obligasi yang dibeli masyarakat negara lain, masih bisa terkendali, dan Pertumbuhan bisa terjaga sekitar 5,9 persen versi Bank Dunia Juli 2013, lebih rendah dari APBN-P 6,2 persen dari PDB Rp.8.700an trilyun (RAPBN-P).

Saturday, May 18, 2013

Ganjar Pranowo Jateng 1

Suasana meriah dan antusiasme pemilihan Kepala Daerah Ibukota DKI Jakarta. Terselenggara sejak persiapan April 2012 dan Puncak Pemilihan tahap Putaran II Oktober 2012. Dengan kemenangan tipis pasangan Jokowi- Basuki dengan perolehan suara kurang dari 54 persen, namun cukup membuat kekaguman tersendiri, betapa tidak seorang kepala daerah kota kecil di Jawa Tengah yaitu Solo berani menantang petahana gubernur DKI Foke sebut saja demikian dengan modal patungan bersama rakyat Jakarta.


Hal ini rupanya akan menjadi suatu model atau parameter yang akan diulang di Jawatengah. Sebentar lagi akan menyelenggarakan pesta wilayah pemilihan kepala daerah tingkat provinsi di Jawa Tengah.
PDI Perjuangan berani mengambil keputusan yang beresiko seperti DKI tahun lalu, namun eforia kalangan muda dan pengusaha sangat merindukan pemimpin seperti pak Jokowi. Maka beberapa sumber menganalisis jatuh pada pasangan no 3. Ganjar dan Heru.
Media Sosial pun ramai, mulai dari telp rumah, Hp, SMS, Facebook, Twitter maupun media maya lainnya.Hampir dipastikan mereka menyebutkan Ganjar pantas memimpin Jawatengah.
Apa Kata Rakyat Jawa Tengah? Mas Ganjar memang Ok. Jateng Baru akan terbit.
Semoga kemenangan Ganjar-Heru nantinya, apabila Tuhan menghendaki. Berati Kemenangan Keibijakan Publik akan hadir di Wilayah itu.....

Monday, April 15, 2013

Kesiapan Guru Era Kurikulum 2013




            Berbicara tentang pendidikan tentu tidak serta merta tenaga pengajar memberikan materi ajar dengan seadanya karena terpaksa. Hal ini akan menciptakan mental anak didik sebatas identitas semu yaitu hadir, absensi mendengarkan guru mengajar lalu bel berbunyi dan pulang, dengan kejemuan apa bila sang guru mengajarnya dalam tekanan (stress). Mengikuti mata pelajaran yang dijejali dengan sistem baru, tentu akan diwajibkan menggunakan buku-buku baru versi tender Kementrian Pendidikan & Kebudayaan. Dus sistem online yang digalakkan Pemerintah tahun 2004 tidak berlaku lagi. Sebab di Kurikulum Pendidikan 2013 buku wajib yang seakan-akan penuh muatan-muatan falsafah kompetensi, harus dipahami betul oleh tenaga pengajar sehingga kualifikasi yang disyaratkan adalah menjadi dogma. Bagaimana kesiapan para guru dan guru bantu di sekolah swasta di Sub-urban area atau pedesaan, yang jelas tidak dilibatkan dalam menyususn Kurikulum 2013 ini  (Elsinta 6 April 2013).
Kompetensi Dasar dan Kompetensi Inti yang tercantum dalam naskah Kurikulum Pendidikan 2013 merupakan rangkaian dari filosofi yang harus dipahami betul oleh tenaga pengajar khususnya tingkat Pendidikan Dasar. Sedangkan dari hasil wawancara para pemerhati pendidikan dan sebagian besar tenaga pengajar, mereka jelas-jelas kurang siap dengan materi yang cukup banyak, sosialisasinya pun sangat mepet dan tergesa-gesa. Pertanyaannya mengapa Pemerintah tetap ngotot kurikulum 2013 harus dilaksanakan tahun ini juga? Sebagai orang yang merasakan keberuntungan saat sekolah dulu tenaga pengajar dan siswa didiknya begitu sejalan ada ikatan tanggung jawab bersama, walaupun segala teknologinya masih sangat-sangat terbatas. Kurikulum Pendidikan tahun 1970 an tidak pernah menjadi beban baik terhadap tenaga pengajar maupun siswanya. Buktinya di tahun 1973 Indonesia bahkan sampai Pedesaan mampu mengekspor ke Negeri Jiran (Suhardi guru Desa Boyolali, 1973).
            Soal pendidikan bukan hanya tanggung jawab Sekolah Negeri dan lembaga Pendidikan Negeri, namun tengoklah sejenak nasib tenaga pengajar swasta yang tersebar di seluruh Indonesia, yang tidak mendapat subsidi untuk gaji dan kesejahteraan mereka, namun dengan keterbatasan dan keikhlasannya tetap menjalankan tugasnya untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa. Juga dialami oleh para orang tua dalam membuat PR dengan muatan-muatan mata pelajaran yang rumit dan bahannya banyak, karena wajib. Jadi bila keadaan sekarang saja sudah membuat berat para tenaga pengajar khususnya swasta dan orang tua murid, apa lagi Kurikulum 2013 tetap dipaksakan tanpa melalui uji coba, resikonya uang negarayang tealah dianggarkan kurang lebih 2,4 trilyun akan hilang , apabila ternyata implementasinya tidak berhasil. 

Manajemen Pendidikan yang buruk.
Membaca tulisan Dini Koesoema A, pemerhati Pendidikan Tentang “Elektisisme Kurikulum 2013” di harian Kompas tanggal 5 April 2013 dan penulis-penulis sebelumnya. Kita akan prihatin dan sedih melihat sikap Pemerintah yang memaksakan kehendak pemalasan berfikir dan merupakan jalan pintas.  Sebagai contoh memburuknya manajemen pendidikan kita, jangankan bisa mengawasi dan memantau dengan cepat pelaksanaan kurikulum 2013 secara disiplin dan konsekuen di pendidikan dasar yang jumlahnya jauh lebih banyak dari tingkat pendidikan atas, Ujian Nasional (UN) tingkat lanjutan atas, seharusnya diadakan pada tanggal 15 April 2013, namun karena masalah teknis urusan percetakan, kelemahan SDM, maka untuk 11 Propinsi antara lain Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi, Nusatenggara dan Bali (Kebanyakan Indonesia Timur). Jumlah siswa SMA dan SMK yang harus mundur dari jadual UN seharusnya artinya Ujian bukan secara nasional ini sekitar 1,1 juta murid. Memetik dari pengalaman berharga ini, hendaknya pemangku kekuasaan dibidang pendidikan melakukan kajian mendalam internal kepada kementrian atau departemennya apakah SDM dan jejaringnya sudah siap? Akibatnya kesimpangsiuran, kegalauan dari para tenaga pengajar, pasti akan berakibat kepada kualitas pengajaran dan akan berdampak pada perlambatan mencerdaskan anak didik. Herannya DPR juga absen bila menyangkut proyek yang tidak ada nilainya seperti membela guru yang sedang resah, orang tua murid yang kebingungan. Semoga tulisan ini menjadi masukan bagi siapapun yang peduli akan Pendidikan kita.

Tuesday, March 19, 2013

CAFTA dan Kerisauan ASEAN 2015


Selasa, 19 Maret 2013
Description: http://www.suarakarya-online.com/image/logo.gif

CAFTA dan Kerisauan ASEAN 2015
Oleh Francisca Sestri G

Selasa, 19 Maret 2013
Usai rapat dengan Komisi VI DPR, Aliansi 9 Asosiasi Industri dan Perdagangan melakukan pembahasan tentang persiapan pemberlakuan CAFTA (China ASEAN Forum Free Trade Area) di Kemenko Perekonomian tahun 2007. Dalam kesempatan itu, Aliansi 9 Asosiasi itu mengemukakan hasil kajiannya bahwa dampak pemberlakuan perdagangan bebas di kawasan China-ASEAN lebih banyak negatifnya daripada positifnya.

Aliansi 9 Asosiasi Industri dan Perdagangan terdiri dari APPSI (Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia), AP3MI (Asosiasi Pengusaha Pemasok Pasar Modern Indonesia), Aprogakob (Asosiasi Produsen Garam Konsumsi Beryodium), APGAI (Asosiasi Pemasok Garmen Aksesoris Indonesia), Asrim (Asosiasi Industri Minuman Ringan), Gabel (Gabungan Industri Elektronik Indonesia), Nampa (Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia) dan PPA-KI (Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika Indonesia).

Oleh sebab itu, pada prinsipnya Aliansi 9 Asosiasi menolak pemberlakuan CAFTA tahun 2010, karena Indonesia dikawatirkan akan terjepit di antara anggota ASEAN dan China yang kemajuan ekonominya luar biasa. Pertumbuhan ekonomi China saat itu menembus 11,2% dengan cadangan devisa mencapai 1,42 triliun dolar AS. Artinya, China telah menjadi tiga besar pemain dunia setelah Amerika dan Jepang.

Sedangkan Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3% dengan cadangan devisa 56,9 miliar dolar AS. (IQ Plus dan BPS, 2007) Dari segi efisiensi dan teknologi, China adalah paling siap melakukan pembenahan dan perbaikan menjelang pemberlakuan CAFTA, dibandingkan dengan Indonesia, terutama ekspor-impor non migas.

Analisis terkait dominasi China mulai menggeliat dan sulit dibendung tampak dari distribusi ekspornya, tidak hanya di kawasan ASEAN, namun juga menyebar ke seluruh dunia, baik pasar Eropa maupun Jepang dan AS. Hasil survei pasar terhadap pakaian, tekstil, mainan anak-anak dan asesoris serta obat-obatan tradisional menemukan banyak barang berlabel made in China.

Tahun 2012 pertumbuhan ekonomi China 7,6% atau menurun drastis dibandingkan tahun 2007 karena sengaja direm dan ditekan oleh beberapa negara maju. Yang mencengangkan, cadangan devisanya justru melesat hampir tiga kali lipat menjadi 3,31 triliun dolar AS. Bandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia (berkisar 6,23%) dengan cadangan devisa 112,781 miliar dolar AS atau naik 2 kali lipat dibanding tahun 2007. Volumenya memang jauh dibanding China, bahkan awal 2013 diperkirakan menurun.


Artinya, dari permulaan sebelum perdagangan bebas kawasan ditandatangani, China sudah mempersiapkan diri menurut patron konsep liberalisasi yang benar. Hal ini bisa terjadi karena biaya produksi di negara Tirai Bambu ini sangat efisien. Pemerintah China pun sangat serius memberikan angin iklim investasi dengan birokrasi yang cepat untuk investor dalam negeri.

Dengan demikian, produk unggulan yang diekspor sesuai konsep perdagangan bebas, memiliki harga kompetitif bahkan lebih murah dari negara mana pun. Sebaliknya produk negara-negara lain, apabila mau ekspor ke China, banyak peraturan yang diberlakukan sebagai bentuk perlindungan terhadap negaranya. Tentu hal macam ini wajar.

Namun, Indonesia justru memiliki kelemahan di sini, khususnya dalam melindungi usaha produk dalam negerinya. Pemerintah RI tidak mendorong tumbuhnya industri olahan usaha kecil dan menengah (UKM), namun malah menggalakkan impor besar-besaran. Buktinya, bukan hanya produk elektronik dan pakaian jadi, tetapi bawang putih saja impor. Khusus bawang putih sempat langka, karena impor terhambat beberapa hari di pelabuhan.

Makin rusaknya tata niaga impor karena masing-masing kementerian memiliki keleluasaan dan otonomi sendiri-sendiri, sehingga sulit dikontrol dan bahkan timbul biaya tinggi di sana-sini, antara lain karena korupsi. Akibat lebih jauh, industri olahan dalam negeri semakin tidak terurus.

Pasca perdagangan bebas kawasan ASEAN-China, kinerja perdagangan Indonesia-China menunjukan hal yang kurang menggembirakan. Neraca Perdagangan RI-China tahun 2011 defisit 3,27 juta dolar AS dan tahun 2012 defisit 1,6 miliar dolar AS. Dari data BPS yang diolah oleh Kementerian Perdagangan 2013, hal ini terjadi, konon, karena faktor migas yang semula positif menjadi defisit.

Melihat fakta yang terjadi, defisit neraca perdagangan - sebagai indikator kinerja perdagangan - China-Indonesia, dari tahun ke tahun semakin besar. Cadangan devisa China kian melaju jauh di depan, sementara Indonesia terkesan kian ketinggalan.

Dengan fakta ini, tidak ada salahnya, para pemangku kekuasaan dan kementerian terkait perlu melakukan lobi dan renegosiasi ulang dengan China khususnya. Ini penting mengingat tahun 2015 akan berlaku perdagangan bebas termasuk SDM di kawasan ASEAN. Artinya, apabila tidak siap, Negara Indonesia yang luas dan subur dengan jumlah penduduk cukup besar akan menjadi pasar tujuan ekspor negara-negara ASEAN lainnya.

Mengalirnya bahan baku, barang jadi dengan BM nol rupiah dan serbuan tenaga kerja tingkat manajer yang kompetitif dengan skill dan keuletan yang lebih dibandingkan Philipina dam Singapura, akan bebas hambatan. Bahkan tenaga kerja level manajer ke atas dari India yang bukan kawasan ASEAN pun sudah masuk rekrutmen perusahaan-perusahan besar Indonesia. Ini tentu sangat merisaukan. Oleh sebab itu, mumpung masih ada waktu, wahai kementerian terkait, berikan dukungan kemudahan birokrasi, infrastruktur, perizinan untuk industri pengolahan dalam negeri. Hindari pemberlakuan peraturan yang aneh-aneh tetapi tidak substansif mendorong industri nasional yang berproduksi di dalam negeri, mampu bersaing dan meningkatkan ekspor. ***
Penulis adalah GM Finance PT Mustika Ratu Tbk,
mahasiswa S3 Unbor Jakarta.

http://www.suarakarya-online.com/news.html?category_name=Opini

Sunday, March 17, 2013

Penghargaan Universitas UNS


Pesan melalui Black Berry Messanger (BBM) dari mantan PR Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) sebut saja namanya Intan Novela, sekarang dosen di Fakultas Ekonomi, mahasiswa S3 Universitas Diponegoro,tentang terpilihnya 100 Mahasiswa Berprestasi dan diantaranya adalah penulis. Sembari slengekkan dan guyon ada rasa kurang PD, pasalnya apa iya masuk dalam 100 Alumni Berprestasi? Sambil meneruskan guyon ilmiah tentang perkuliahan karena sama-sama sedang belajar di tingkat doktoral Ilmu Ekonomi, bedanya hanya Semarang dan Jakarta.
Minggu ke tiga Pebruari email dari sekretaris Dekanant sebut saja Lucida datang meminta CV dan pengalaman pekerjaan dan lain-lain, tahap tersebut sudah terlalui dengan baik, yang berakhir dengan tukar menukar Pin BB alat komunikasi representatif saat kini.
Perkiraan ini pasti main-main karena tidak ada sinyal lagi. Perasaan itu tidak begitu lama, karena ada SMS dari Sekretariat Rektorat, karyawan itu  laki-laki se usia 22 tahunan sebut saja namanya Gembong , bahwa 100 Wisudawan harus mengisi daftar isian seputar CV dan foto terakhir. Dilanjutkan tanya jawab via telp dan e-mail, lengkap dan padat akhirnya semua selesai di minggu terakhir bulan Pebruari.
Kembali kepada Intan ia menyodorkan permintaan untuk mengisi pembekalan malam wisuda kepada 120 an mahasiswa Fakultas Ekonomi dari berbagai jurusan, pada hari Rabu tanggal 6 Maret 2013, celaka 12 karena aku tanggal 8 Pebruari ada tugas kantor di Semarang yang sudah jauh-jauh terplaning. "Berantakan semua jadual" kata hati sambil dahi mengernyit mencari solusi.
Akhirnya semua urutan kegiatan mulai pembekalan kepada adik-adik wisudawan terlayani dengan baik, mengharukan malam itu s/d jam 22.30 dan masih tetap antusias, sebab dua pembicara adalah alumni FE sebagai pemilik Pabrik Sepatu Piero dan pemilik Perusahaan Tiga Pilar. Ada rasa bangga pada adik-adik tersebut yang kritis dan tetap semangat mendengarkan, walaupun esok hari pagi-pagi sudah harus ber toga untuk wisuda. Diakhiri dengan Wedangan di "3 Tjeret" depan Istana Mangkunegaran yang uniq dan teraliri suasan tradisional.
Singkat kata pada tanggal 9 Maret 2013 setelah tugas Kantor di Semarang, reuni Pepilo (Grup softball putra putri Solo sejak tahun 1975) di Bistro Gedung Bathari, kebetulan teman Oetje ex. SMA St. Yosef membawa alat musik sendiri jadi untuk menghidupkan suasana semua bisa menyumbangkan suasana dan ber Cha-Cha
.
Acara Penganugerahan dari rektor bapak Ravik Karsidi kepada "100 Alumni UNS Berprestasi" berlangsung pada tanggal 10 Maret 2013 malam hari.Sekaligus dapat reuni dangan sahabat lama, bahkan teman-teman SMA, saudra dan  tetangga di kampung yang sudah menjadi Pimpinan Fakultas juga ada. Kebetulan esok hari akan ada UNS Award diberikan kepada Ketua MK Prof. Dr. Mahfud MD karena konsistensi di bidang Urusan Konstitusi Negara.
Walaupun aku hanya seorang Manager diantara para Direktur, Pemilik Perusahaan, Pejabat Tinggi Negara setingkat DPR dan Dirjen, tidak menciutkan hati. Justru ketika penyebutan nama "General Manager Finance PT. Mustika Ratu Tbk" membahana, langkahku semakin ringan karena pendiri perusahaan Kosmetika Domestik Pertama yang sudah Go Publik 1995, hadir memberikan doa restu, beliau adalah Dr. BRA. Mooryati Soedibyo yang memiliki prestasi selevel global. Beliau memiliki Hotel Mustika Sheraton Yogyakarta, Mustika Ratu Cemter Building dan PT. Mustika Ratu Tbk, tanpa hutang berarti....salut!


 
 Pagi sebelum Dies Natalis UNS yang ke 37. Dekan FE Bapak Wisnu memberikan informasi bahwa pemberian Penghargaan tersebut adalah sudah di godok dan dirapatkan di Dekanant, sehingga bukan asal-asalan diutarakan pak Wisnu beberapa kali sebagai penekanan di Breakfast Morning di Lounge Alumni FE UNS Ruang Multi fungsi yang ditata apik lengkap ruang meeting, ruang istirahat bila Alumni dari luar kota tidak ada saudara untuk istirahat dll. Para Alumni FE UNS bisa bertandang kesana kapan saja.....Monggo.