Showing posts with label Sosial. Show all posts
Showing posts with label Sosial. Show all posts

Tuesday, December 27, 2011

Sejahtera Itu Mahal ......

Tidak terasa pencipta lagu "Pancasila Rumah Kita" mas Franky Sahilatua sudah mendahului kita. Namun angan-nya, keinginannya tetap menjadi harapan tiap warga negara Indonesia mewujudkan kehidupan sejahtera.
Beberapa bulan lalu ditahun yang sama ini, penulis buku "Negara Paripurna" bung Yudi Latif mengumandangkan orasinya di TIM untuk mengenang seorang Franky dengan hal yang tidak jauh berbeda. Negara suatu tempat yaitu Indonesia dalam pengertian bahwa tiap jiwa yang ada didalamnya akan bahagia penuh kerukunan dalam menyembah Tuhan YME, empati dengan sesama,bersatu padu melawan bentuk penjajahan dari eksternal dengan mengedepankan pemecahan masalah secara mufakat, pada akhirnya sejahtera adalah tujuan utama.
Bercermin dari kejadian demi kejadian, mulai bom bunuh diri di GBI Solo pada September lalu,Papua membara yang menewaskan aparat kepolisian juga warga, Sondang nekad membakar diri, Mesuji sengketa lahan serta bentrokan warga di Bima NTB berujung penembakan yang merenggut korban jiwa. Kekerasan demi kekerasan berulang kembali, seakan kesejahteraan itu barang yang jauh dan jauh dari jangkauan kita. Kenapa demikian? Karena kedamaian pengamalan Sila-sila Pancasila sudah semakin kabur. Peran Pemerintah Daerah dipertanyakan, berujung pada gugatan peran sebuah Negara.
Apabila hal ini terus berlanjut, yang kuat merasa kuat, yang lemah terus terpinggirkan, maka Sejahtera itu terbukti mahal,kadang ditebus dengan kematian dari pihak yang termarjinalkan...
Marilah kita saling memberikan masukan positif kepada yang bertikai bisa melalui tulisan, jejaring sosial bahkan media massa bagi yang memungkinkan. Agar Pancasila Rumah Kita benar-benar terwujud di bumi Indonesia....

Tuesday, February 8, 2011

Kerusuhan demi Kerusuhan



Senin siang tanggal 7 Pebruari 2011, seluruh warga negara Indonesia dikagetkan oleh berita baik media elektronik maupun media cetak, tidak terkecuali Twitter dan Facebook. Menyeruaknya pengrusakan rumah ibadah Jemaah Ahmadyah di Pandegelang wilayah Banten. Masa yang berjumlah ribuan mengamuk dan mengobrak-abrik tempat tinggal penduduk yang disinyalir digunakan untuk ritual peribadahan Jemaah Ahmadyah, berbekal SKB yang amat ampuh dalam urusan mendirikan rumah ibadah keimanan tertentu.
Dalam insiden tersebut memakan korban jiwa 3 orang anggota Jemaah Ahmadyah meninggal dunia, setelah dihantam benda tumpul, dilucuti beberapa pakaiannya dan dibiarkan tergeletak seperti memukuli binatang.

Selang satu hari dari peristiwa tragis dan memilukan di Pandeglang, kembali tindak kekerasan yang disinyalir bukan warga setempat di Temanggung,Jawa Tengah. Awal mula kerusuhan dan pengrusakan terhadap Gereja Bethel Indonesia, Gereja Pantekosta dan Gereja Katolik, Gedung Sekolah dan beberapa bangunan lainnya seperti Kantor PN Temanggung, dipicu oleh putusan hakim selama 5 tahun penjara terhadap terdakwa Antonius Richmond Bawengan karena penghinaan terhadap agama pada Oktober 2010, yang tertangkap tangan oleh warga setempat. Sedangkan masa yang memadati sidang di PN Temanggung menuntut hukuman seumur hidup.

Menyimak kejadian-kejadian ini banyak kalangan menyesalkan lembek dan lambannya Pemerintah Pusat dalam mengusut tindakkan brutal dari gerombolan beringas yang mengatasnamakan pembelaan agama tertentu. Sehingga wibawa pemerintah dalam hal ini Pemimpin Bangsa kurang cekatan dalam mengungkap dalang kerusuhan yang semakin meresahkan warga. Menurut janji Pemilu setiap kader partai biasa mendengungkan NKRI yang berkonstitusi UUD'45 dan PANCASILA adalah harga mati. Buktikan tuan-tuan dan nyonya-nyonya Pengelola Negara. Sudah lelah rakyat dengan beban ekonomi ditambah keresahan yang tidak membawa rasa damai.

Catatan : gambar diambil dari Internet dan detik

Tuesday, October 26, 2010

Merapi Meletus Usai Tsunami Mentawai



Derita saudara-saudara kita, seperti tidak ada akhirnya. Tabrakan KA yang memakan korban jiwa beberapa minggu lalu terjadi disaat kita tidur nyenyak.Menelan korban jiwa lebih dari 30 orang. Banjir bandang di Wasior Papua Barat yang menelan korban jiwa lebih dari 100 orang meninggal dunia dan sebagian masih dalam pencarian,meninggalkan derita dan tangis bagi korban yang mengalaminya.
Belum siuman dari peristiwa tersebut, Jakarta ibukota Negara kita kembali direndam banjir, akibat curah hujan selama 3 jam pada tanggal 25 Oktober sore hari.Dan drainase banyak yang mampet dan tanggul jebol dll. Apapun alasannya yang jelas banjir selalu menjadi ancaman warga Jakarta.
Pada saat warga jakarta terjebak kemacetan yang luar biasa, pada jam 21 an, Pulau Mentawai terkena gempa berkekuatan 7,2 SR dan mengakibatkan Tsunami yang menelan korban lebih dari 100 orang dan 500 lebih orang hilang belum diketemukan. menyisakan kepedihan para korban dan hati kita.
Pada tanggal 26 Oktober 2010, Gunung Merapi meletus pada senjahari disaat orang akan beristirahat.Data masih dikumpulkan berapa korban jiwa yang terkena letusan tersebut.Mbah Marijan sang juru kunci sampai tulisan ini ditorehkan belum diketahui keberadaannya.
Baik Pemda dan Pemerintah Pusat sudah melakukan peninjauan ke lokasi-lokasi bencana.
Kita semua tidak mengetahui kapan musibah menimpa kita, oleh sebab itu marilah kita berbuat kebajikan dan selalu menaruh simpati kepada saudara-saudara kita yang berkesusahan, semampu kita.Juga doa kepada Tuhan semesta alam, agar diberikan perlindungan bagi kita semua.....amien.

Saturday, October 2, 2010

Bila Aparat Tendensi Membiarkan



Peristiwa Tarakan, membuat hati kita tersentuh, menangis. Ibu-ibu, anak-anak berbondong-bondong meninggalkan kampungnya. Setelah gebuk menggebuk antar etnis Warga asli dan keturunan suku Bugis terjadi. Lima warga didapati meninggal dunia karena tawuran ini, tanpa ada aparat yang melerai saat kejadian berlangsung.

Berita yang masih ditayangkan di media TV, sebuah bangunan dibakar masa yang sedang berselisih di Tarakan. Peristiwa di Jalan Ampera pun meletus. Tepat di depan pengadilan negeri Jakarta Selatan. Mereka membawa senjata tajam dan pestol pribadi. Lagi-lagi menelan tiga korban jiwa. Aparat Keamanan berdatangan setelah semua terjadi.

Kalau peristiwa demi peristiwa, menunjukkan kesenjangan sosial antara sikaya mungkin hasil korupsi dan simiskin karena terbatasnya lapangan pekerjaan. Semua gesekan terjadi kesannya diserahkan kepada tiap warga tanpa ada pendampingan, pengawalan dari pihak yang berwajib. Pertanyaannya untuk apa mereka dialokasikan anggaran dari APBN uang Negara?

Rasa aman dan tenteram selama ini didambakan oleh setiap orang akan mulai dipertanyakan. Pasalnnya kejadian tersebut, saat ini mudah terjadi. Apalagi bila benar ada yang ikut menyelam sambil minum air. Maka Negeri tercinta ini butuh perawatan serius. Kejenuhan, kemiskinan warga menambah mudahnya kelompok ini disulut emosi hanya perkara sepele.

Sebagai masukan kepada pemangku kekuasaan, agar sensitif dan tidak membiarkan peristiwa demi peristiwa yang menunjukan rendahnnya pendidikan, kurang berbudayanya suatu bangsa. Menghiasi sederet torehan sejarah yang menyedihkan di era Pemerintahan ini.

Semoga tiap keluarga, tokoh masyarakat, pengamat sosial, media dll dihimbau memberikan pencerahan, agar peristiwa seperti kasus Tarakan dan Ampera tidak terulang kembali.

Tuesday, September 14, 2010

Hari Raya Idul Fitri 1431 H



Indonesia yang mayoritas memeluk agama Islam. Diawali dengan "nyadran" atau ziarah kemakam leluhur untuk mengawali ibadah puasa dibulan Ramadhan. Ibadah puasa satu bulan penuh menahan lapar, dahaga serta godaan-godaan duniawi. Namun bagi yang dapat melalui dengan puja dan puji, akan mendapatkan pahala dari Tuhan Yang Maha Esa.

Ketika dihari terakhir puasa, maka Azan Magrib berkumandang, menandakan hari kemenanganpun tiba. Maka rasa syukur tiada tara, pagi hari setelah Subuh dilanjutkan Sholat Eid secara berjemaah, begitu bahagia dan damai.

Selanjutnya sebagai rasa ungkapan kasih sayang, mereka saling bermaaf maafan. Kalau istilah Jawannya "Ujung" ngabekti kepada orang tua atau yang lebih tua. Suasana demikian sangat dirindukan oleh seluruh umat manusia. Ketika Hari Lebaran tiba, tak jarang mereka mudik ke daerah asalnnya, untuk bersilaturahmi.

Demikian juga Pelaku usaha pun, tidak ketinggalan menyapa dengan ucapan syukur, baik dalam bentuk Iklan di media cetak maupun elektronik.

Semoga kerukunan antar umat di Indonesia khususnya dan dunia pada umumnnya, akan mewarnai setiap hati manusia, akan cinta damai penuh kasih sayang. Kata teman yang sekarang menjadi Ustadz di Bengkulu agar mendapatkan pemahaman "Rahmatan Lil Alamin"

"Selamat Idul Fitri 1431 H & Mohon Maaf Lahir Batin"

Tuesday, August 17, 2010

INDONESIA DI USIA 65 TAHUN



Lapangan Kawedanan Banyudono Kabupaten Boyolali, saat itu 17 Agustus 1973. Riuh dengan semangat menyala-nyala. Dihadiri sekolah-sekolah mulai dari SD, SMP dan SMU sekawedanan.

Kawedanan adalah istilah tempo dulu peninggalan Hindia Belanda, dimana sebelum Dati I ada jabatan Wedana yang membawahi beberapa Kecamatan yaitu Kecamatan Banyudono, Kecamatan sawit, Kecamatan Simo, Kecamatan Teras dan kecamatan Mojosongo. Entah mengapa seperti Karesidenan Surakarta juga membawai 5 titik Kabupaten dan 1 pusat kota sebagai otonomi residen.

Walaupun terasa terpusat dan tidak terdengar apalgi terbersit otonomi daerah seperti saat ini. Sejak tahun 2004 telah penuh sistem pemerintahan berubah total dari UUD45-Ke UUD 2002 dimana Pemilu langsung baik Legislatif, DPD, Presiden-Wakil, Walikota-Wakil, Bupati-Wakil dan Gubernur-wakil.
Namun Bendera Merah Putih yang berkibar di setiap tanggal 14 Agustus sebagai hari Pramuka, puncaknnya pada Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus.

Seusai peringatan upacara menaikkan bendera pada jam 10 pagi serta upacara penurunan bendera pada sore hari, tidak ada rasa bersungut-sungut ataupun terpaksa. Diwajah setiap murid tersebut.

Dijaman global ini rupannya waktu menggelinding begitu cepat, jangankan dirumah-rumah penduduk, didalam upacarapun pengibaran Sang Merah Putih terasa seadannya, tidak ada greget ataupun merasa memiliki, bangga terhadap sejarah perjuangan ketika benda itu pertama kali berkibar di Jl.Pegangsaan Timur oleh Sang Proklamator Soekarna-Hatta.

Seiring terjadinya antrean BBM, Harga-harga bahan pokok melambung,kenaikan tarif listrik sampai dengan jatuh korban ledakan tabung gas 3 kg, tindak kekerasan kepada masyarakat tertentu...mungkinkah hal itu yang membuat hati warga tidak peduli lagi Kemerdekaan Indonesia. Bahkan Petani miskin, Pedagang Pasar dan Nelayan apabila disentuh dalam suatu dialog mereka berujar, merdeka apa tidak sama saja. Nasib orang miskin semakin sulit, ah mau reformasi atau apa istilahnnya itu kan urusan para elit.

Begitulah suasana hati beberapa warga negara yang menyikapi, 65 tahun Negara kita merdeka. Semoga ditangan para generasi muda, sebagai estafit kepemimpinan yang akan datang, menjadi perenungan akan para pemimpin bangsa saat ini. Untuk cita-cita Kemakmuran seluruh bangsa dalam suatu ASA!
Dirgahayu Hari Jadi Republik Indonesia, terlalu sayang bila terus merintih didepan 237 juta jiwa yang bersemayam diatasnya.

Thursday, October 1, 2009

Gempa Sumbar




Gempa yang mengguncang kota Padang dan sekitarnya, dirasakan sejak pukul petang pada tanggal 30 September 2009, cukup mengenaskan. Gempa berkekuatan 7,6 SR itu melulunlantahkan rumah penduduk dan juga pusat kekgiatan perekonomian, seperti pasar swalayan dan toko-toko.
Getaran tersebut dirasakan sampai Malaysia dan Singapore.

Suatu peringatan dini bahwa bumi ini sudah rentan, kapan dan dimana saja kita tidak akan bisa menghindarinya, kecuali memiliki kemampuan melihat apa yang akan terjadi dengan pasti, memangnya sama dengan yang Menciptakan? Tentu tidak.

Dengan demikian kita tetap harus waspada dan berjaga-jaga, seandainya maut dan bencana sekalipun telah dekat dengan kita, miris dan was-was tentu sangat wajar, tetapi kehidupan selanjutnya pun tentu harus tetap dilalui. Muara tersebut akhirnya kita akan sampai pada ujungnya....kematian tubuh...cepat atau lambat pasti tiba.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberikan perlindungan dan kita tetap menyambut ajaran FirmanNya yang baik, agar bila sampai saatnya, visi kehidupan abadi menjadi kenyataan.
Belum terlambat......

Sunday, September 13, 2009

Bencana di bulan 9 tahun 2009



Gempa bumi Tasikmalaya dan Jatuhnya pesawat Nomad-N 24 milik TNI AL di Sakatak Banjarmasin.

Diawal bulan September 2009 ada kejadian yang menyedihkan, pasalnya umat baru menjalankan ibadah buasa tiba-tiba dikagetkan dengan bencana gempa di Tasikmalaya berkekuatan 7,3 SR. Kira-kira beginilah sepenggal cerita tadi. Ketika mobil melaju dari desa Ciracas menuju perkantoran jalan jenderal Gatot Subroto Jakarta. Tiba-tiba sebuah SMS dari seorang teman mengagetkan konsentrasi bahwa Jakarta Bandung dan sekitarnya di guncang gempa. Namun herannya kami tidak merasakan sama sekali guncangan ini, baru menyadari sepanjang Cawang Pancoran banyak manusia berkerumun keluar dari gedung-gedung perkantoran. Ternyata SMS tadi benar adanya, begitupula daerah yang parah antara lain Tasikmalaya, Cianjur, Garut dll serta menyisakan derai airmata dari sanak keluarga korban gempa yang terkena musibah baik materi maupun nyawa terenggut akibat bencana tersebut.

Beberapa waktu dibulan 9 ini, pesawat TNI AL jatuh lagi di Sakatak, Banjarmasin Kalimantan Timur. Sampai dengan tulisan ini diturunkan ada beberapa korban meninggal antara lain warga sipil sebanyak 5 orang meninggal. Rasanya bumi yang kita injak ini sudah kurang bersahabat, apakah yang ada di darat, di laut maupun di udara.

Hal ini menandakan bahwa yg berhak mengklaim, memiliki, menguasai adalah Tuhan Sang pencipta. Kenapa demikian? Sebab ketika alam dan sekitarnya bergerak memenuhi kodrat pergeserannya, kita manusia sudah MIRIS dan berkali-kali memohon doa KESELAMATAN padanya. Artinya manusia sejatinya rapuh, takut, was-was bila kenyamanan kita terusik. Oleh sebab itu janganlah mengklaim kita yang paling...kalau suatu saat 'mandat&kekuasaan" itu diambilNya, kita akan meratap seumur hidup............

Thursday, May 21, 2009

Jatuhnya Pesawat Hercules di Magetan
















Ket gambar
Kiri: Hercules tempur untuk Irian Barat di Museum Yogyakarta
Kanan : Hercules yang jatuh di Magetan Jatim 20 Mei 2009


Radio Elsinta masih menggema di pagi hari tanggal 20 Mei 2009, tepat dengan peringatan hari Kebangkitan Nasional yang 101 dan terasa biasa-biasa saja. Yang tidak biasa adalah berita mengenaskan dan mengharukan yaitu jatuhnya pesawat Hercules milik TNI AU yang menewaskan lebih dari 80 orang termasuk perwira TNI AU tersebut.
Bencana terus silih berganti yang kesemua menunjukkan gejala rapuhnya dan minimnya sarana dan peralatan ditubuh bangunan negeri tercinta kita, mulai dari rentannya tanggul-tanggul, infrastruktur jalan, jembatan, olah raga kita yang dulu berjaya sekarang seperti kurang energi sampai dengan peralatan tempur kita.

Kita menyibak dan menyimak sedikit mengenai kegagahan Hercules tempo dulu, ketika Bung Karno masih mesra dengan Nikita Kurchev dan tentu dukungan peralatan tempur untuk merebut Irian Barat, terbukti Pulau ini kaya raya akan hasil tambangnya. Hercules yang gagah perkasa dipergunakan oleh perwira-perwira TNI waktu itu masih dikenal dengan ABRI dibawah pimpinan tempur LB Murdani dkk bak garuda tanpa lelah merebut pulau tersebut untuk warisan kepada bangsanya yaitu bangsa Indonesia, harapan kedepannya untuk kemakmuran rakyat.

Keadaan aman saja mungkin tidak cukup tanpa sosio demokrasi ekonomi, penganggaran yang tepat. Suatu negara butuh kekuatan yang tangguh untuk wadah dan membangun ketahanan ekonomi, politik dan pertahanan bagi penduduknya, bukan sekedar tempat yang terkesan apa adanya. Minimal mengikuti dinamika kehidupan selayaknya sebuah negara seperti Thailand, Singapura dan Malaysia, toh kita jauh lebih kaya SDM dan SDA. Tidak perlu jauh-jauh seperti negara maju yang siap dng nano teknologi.

Semoga peristiwa demi peristiwa jatuhnya kapal terbang milik TNI, segera bisa diatasi dan dapat dipergunakan sebagai benteng pertahanan dan keamanan apabila sewaktu-waktu terjadi bencana negara seperti Tsunami Aceh yang lalu, Gempa Yogya dll untuk transportasi logistik bagi warga yang membutuhkan serta kemungkinan ancaman musuh dari luar terhadap keselamatan keadulatan negara.

Friday, March 27, 2009

LAGI-LAGI : BENCANA KALI SITU GINTUNG

Siapa yang tidak terperangah? siapa yang tidak terkejut, ketika tanggul sungai Situ Gintung jebol persis di atas dataran rendah padat penduduk di Ciputat Banten dan Tangerang. Ketika hari masih subuh sekitar pukul 4.30 wib suara gemuruh seperti Tsunami melaju ternyata aliran deras sungai tersebut mengantam dinding-dinding tanggul dan akhirnya merenggut nyawa beberapa penduduk sampai lebih dari 70 orang.

Peristiwa-demi peristiwa terus terjadi musibah yang menyebabkan terenggutnya jiwa manusia, mulai pada liburan Lebaran tahun 2004 iring-iringan mobil di jalan Tol Jagorawi, Gempa di NTT, Gempa di Papua dan akhirnya 26 Desember 2004 terjadi Tsunami dasyat di Serambi Mekah Aceh dan sekitarnya menhancurkan harta benda dan lebih dari 100.000 orang meninggal dunia. Kemudian tahun 2005 beberapa gunung mulai batuk-batuk di Sulut, Jawa tak ketinggalan gunung Merapi yang diperkirakan akan meletus di tahun 2006 tidak terjadi, namun banyak pengungsi yang sempat di evakuasi. Pada bulan April tahun 2006 Yogya dan Jateng di guncang gempa dasyat dan menewaskan lebih dari 1000 jiwa.Pada bulan Juni 2006 terjadilah semburan lumpur Lapindo yang samai saat ini belum bisa diatasi, yang menyisakan 3 kecamatan harus tertutup lumpur dan penduduk terpaksa mengungsi. 

Pada tahun 2007 gempa bumi di Sumbar, Solok terjadi yang mengakibatkan trauma penduduk setempat. Begitu pula daerah Pangandaran tak luput dari terjangan gempa sampai terasa di Jakarta. Begitu juga di Cimahi Bandung beberapa penduduk tertimbun sampah dan merenggut beberapa jiwa manusia.

Pada tanggal 27 Maret 2009, terjadi di Ciputat Banten yang menewaskan lebih dari 70 orang.

Dari kejadian-kejadian tersebut baik karena alam maupun kekeliruan manusia, bisa kita renungkan dan intruspeksi untuk berjaga-jaga bahwa bencana saat dunia sudah penuh sesak menyangga keinginan dan kebutuhan makhluk hidup termasuk tumbuh-tumbuhan yang bertumpu diatas tempat yang disebut bumi, bisa terjadi kapan saja dimana saja ketika bumi mencari keseimbangan baru. Sama seperti manusia akan bergerak dinamis untuk mencari sesuatu untuk kebutuhan dan keinginannya.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu menyertai kita semua yang selalu ingat dan waspada, bahwasanya kita tidak berkuasa atas alam semesta, hanya menumpang selama kita masih diperkenankan mengelola sesuai talenta yang diberikan olehyang Empunya  kuasa. Amin

Saturday, January 31, 2009

YPN : Yayasan Pedagang Nusantara


Dari kiri : Aries Mufti, Putri, Sestri dan Ngadiran

Aries Mufti Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Muslim dan Mantan Ketua umum APPSI Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia didampingi Ngadiran Sek Jen APPSI yang sekarang Ketum APPSI dijabat oleh Prabowo subiyanto, mengadakan pembahasan dengan Putri K Wardani Ketua bidang Industri Perkosmi di Jakarta baru-baru ini. Rencana mereka akan mendirikan Yayasan Pedagang Nusantara yang memiliki tujuan kemandirian dan implementasi pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Hadir pula Sestri  yang sekarang ada di tim tujuh Perkosmi.

Thursday, October 30, 2008

AAPG ( American Association of Petrolium Geology): 42 Ahli Geologi dunia meyakini luapan lumpur Sidoarjo akibat Pemboran.



Pertemuan para ahli geologi yang diadakan oleh anggota AAPG, di gelar pada tanggal 26-29 Oktober 2008 baru-baru ini di Cape Town, Afrika Selatan. Materi yang dibahas antara lain Semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo Jawa Timur. Menurut salah satu peserta dari Indonesia Rudi R ahli perminyakan dari ITB, bahwa dari seluruh peserta manca negara 3 orang setuju karena mud vulcano, 42 orang setuju karena pemboran, 13 orang masih mix dan 16 orang masih perlu diskusi final. Sehingga hasil tersebut cukup meyakinkan bahwa luapan lumpur Lapindo di yakini akibat pemboran.


Menurut sumber yang dapat dipercaya, kronologis jalannya konfernsi di Cape Town ,

bahwa diskusinya panas sampai berdiri-berdiri, dasar bule kurang sopan, tapi semua kelihatannya menikmati, dan nggak apa-apa, seingat saya pelempar pertanyaan saja sekitar 20 orang, yang nyambut dan berdiskusi juga ada, dan akhirnya setelah kecapain, moderator bilang sesuai dengan rencana semula bahwa, setelah dry-run di london dan disambung di sini, kita harus tahu apa sebetulnya yang ada di pikiran saudara-saudara sekalian, kemudian dia bilang
ada 4 pendapat yang menonjol :
> A. Yang berpendapat Mud Vulcano disebabkan Gempa Yogya
> B. Yang berpendapat Mud Vulcano disebabkan Pemboran
> C. Yang berpendapat Mud vulcano kombinasi dari kedua-duanya
> D. Yang berpendapat Diskusi dan data yang disampaikan belum konklusif.
Kemudian diminta seluruh peserta mengangkat tangan ketika A,B,C,D
disebutkan, dan ternyata hasilnya 3, 42, 13, dan 16.
Setelah itu, acara ditutup...... kesimpulan silahkan dibawa pulang
masing-masing, hanya untuk diketahui bahwa yang 3 itu semuanya orang Indonesia, jadi tidak ada bule yang memilih A.
Sedangkan isi diskusi, jangan ditanya deh. . .berat-berat isinya, sampai hal detail, misalnya masalah Float Valve, Sticking, Loss, Kick, LOT, Rock
Propagation, juga hal-hal yang saya tidak mengerti misalnya ketika
berdiskusi tentang rambat getar gempa, simulasi pecahnya fault, dll....demikian penuturanya dengan nada antusias.


Ternyata benar juga tanggapan berbeda dari pihak Lapindo tetap berkeyakinan bahwa muncratnya lumpur Sidoarjo bukan karena pemboran. Seperti yang di lansir oleh News Link 30 Oktober 2008 : Lumpur Sidoarjo merupakan bencana geologi, adalah data terbatas dan banyak opini. Sehingga drilling trigger tidak bisa dibuktikan, barangkali sumber ini termasuk yang kelompok 3 pemilih A tadi ?

Thursday, September 18, 2008

Banjir dan Gempa Yogya- Jateng


Awal tahun 2006 hujan yang berhari-hari, dan udara mendung hampir satu bulan menyelimuti kota Jakarta. Tidak disangka Jakarta bisa dikatakan terendam air. Bahkan gedung Telkom di Kuninganpun sempat pagarnya jebol dan listrik padam. Kelapa Gading kembali terendam, begitu pula Jakarta Timur. Setelah hujan mulai agak mereda aku dan sopir nekad pergi ke kantor, sampai di Kalimalang ujung mobil Taft tersebut dikepung air yang makin tinggi, sialnya kami terjebak di tengah jembatan. Air semakin tinggi dan mobil bisa lolos namun mandeg diterowongan Cawang. Sambil ketar ketir sopir suamiku sudah cemas. Apabila terus kearah Cililitan berarti menyongsong bencana. Semua mobil panik dan pelan-pelan kami putar dan lawan arus, setelah berhasil tiba-tiba ada bus PPD dari arah Tanjung Priok yang mogok. Kami pasrah sambil usaha mencari jalan terobosan dalam waktu dua jam, sambil terus berdoa. Akhirnya mujizatpun datang, kami lolos dan kembali pulang ke rumah.

Belum sembuh dari perasaan sedih, dalam tahun yang sama kita semua di kejutkan oleh berita yang menyedihkan. Yogyakarta dan Jawa Tengah diterjang gempa bumi. Telp terus berdering dari sanak saudara. Saya dan almarhum Riswanda Imawan, pakar ilmu politik UGM, SMS dan terus memantau situasi. Begitu pula guru spiritual Solo pak Wisnu Agung Dipo tidak henti-hentinya menyebut nama Allah, karena dilokasi beliau terus mengurus mayat yang bergelimpangan.
Disela-sela pembukaan Mukernas APPSI Pedagang Pasar ke 2, yang dihadiri Presiden SBY, kutinggalkan acara inti tersebut dan kami beberapa Manajer Mustika Ratu memutuskan untuk menyalurkan bantuan sekedarnya. Kami dari Jakarta dibantu anak-anak cabang Semarang dan Solo akhirnya sampai lokasi. SMS Riswanda menceritakan ia dan mahasiswa UGM hampir mati di kali Anget karena menolong orang-orang disana. Kami sendiri ditengah sengatan matahari mendirikan tenda untuk pengungsi. Saking antusiasnya dan lupa tentang tali temali, tenda tentara yang kami bawa tidak kunjung berdiri. Lalu saya perintahkan Lilis asistenku, untuk minta tolong dari regu PMI yang kebetulan baru sampai. Sekali tarik tenda berdiri, lega rasanya, sambil malu-malu kami mengucapkan terimakasih.
Rute berikutnya kami ke Gunung Kidul untuk menyalurkan bantuan melalui pamong setempat, dilanjutkan ke lokasi hotel Sherathon Mustika, memberikan bantuan uang, baik dari karyawan maupun perusahaan kepada para karyawan Mustika Ratu yang ada di Yogyakarta.
Seusai dari Yogyakarta mobil dan truk kami menuju Gantiwarno, Klaten Jawa-Tengah. Kami menyalurkan bahan makanan, sarung, sandal, obat-obtan dll.
Karena hari sudah malam, rombongan menuju Solo untuk istirahat. Karena badan capai sebaiknya kami wedangan, lesehan minum jahe dan nasi liwet.
Pagi-pagi saya dan Lilis harus bertolak ke Jakarta, kami berhasil mendarat di Cengkareng dan langsung menuju kantor pusat, karena ada gladiresik RUPS. Mobil kami tiba-tiba mati ditengah jalan tol, sopir tuaku sudah ketakutan kena omelan, klakson mobil-mobil di belakang tambah membuat kacau.
Sopir turun ternyata tutup radiator kelupaan dipasang sewaktu mencuci mobil dirumah. Astaga! Lilis dengan sigap menelpon mobil derek, kami bertiga naik mobil tanpa AC dan pengap bau radiator. Akhirnya dengan basah kuyup sampai juga di kantor pusat Mustika Ratu, dengan selamat. Pengalaman pahit tetapi puas sudah membantu korban bencana......

Thursday, September 4, 2008

Bencana Gustav


Gustav yang mengganas di Amerika menjelang konvensi Capres Mc Cain-Sarah Palin di Amerika Serikat , menurut para pengamat diprediksi memiliki kapasitas perusakan yang sama dengan dasyatnya bom Hirosima.

Kita perlu mencermati dan mewaspadai semua jenis bencana yang mungkin akan terjadi. Baik bencana alam ataupun akibat ulah manusia.

Apapun bentuknya bencana akan menyisakan RATAP TANGIS, bagi yang di sapa dan di terjangnya.

Gambar diatas adalah : Tsunami Aceh (2004), Gustav (2008) dan Lumpur Lapindo (2006- sekarang).

Wednesday, September 3, 2008

Luapan Lumpur Lapindo


Gerakan Menutup Lumpur Lapindo (GMLL)

Forum ini di deklarasikan di Gedung GBHN Senayan, pada bulan Pebruari 2008. Hadir sebagai pembicara adalah Dr. Dipl Ing.- Ir. Rudi RR, pakar pengeboran minyak dari ITB dan sejumlah pembicara dari tokoh yang tidak asing lagi Salahudin Wahid, Prof. Dr. Syafei Maarif, Pak Mustiko, Dr. Sukiadi Kasturi dll. Dalam paparan Rudi bahwa ia dkk berkeyakinan bahwa luapan lumpur lapindo bisa ditutup, sehingga tidak perlu menunggu 20 th, 30 th atau 100 tahun yang sering disebut mud vulkano. Bagi orang awam, apapun bentuk penyelesaiannya tujuan utama keselamatan warga Sidoarjo khususnya dan bahkan keselamatan warga seluruh pulau Jawa. Selamat berjuang mas Rudi.