Friday, June 25, 2010

Yulia Giralld Asal Imigran Inggris Jadi PM Australia



Ket Gambar :
Kiri Yulia Giralld, kanan Karina Sukarno Putri

Munculnya nama Yulia Girrald di dunia perpolitikan di negara kanguru tidak asing lagi. Perempuan imigran dari Inggirs ini sejak remaja memang sudah berani melawan arus, seperti protes kepadasalah satu guru di bangku SMU, karena hal gender keutamaan bagi siswa laki-laki . Sebagai anggota parlemen dimulai pada tahun 1998 dari partai Buruh.

Ketika Partainya kalah dalam pemilu tahun 2001, Giralld menarik diri dari hiruk pikuk pemberitaan media, dan sebagai ketua bidang urusan kependudukan, di kabinet bayangan, hingga pada tahun 2006 resmi mencalonkan sebagai wakil pemimpin partai.

Perempuan lajang ini terpilih sebagai Perdana Menteri Perempuan pertama di Australia 24 Juni 2010 yang sebelumnnya memangku jabatan sebagai wakil PM Rudd sejak partai buruh menang pada tahun 2007. Sebelumnnya pernah menjabat Menteri Tenaga Kerja dan mrenghidupkan kembali pasal UU tentang buruh yang sempat dihapuskan oleh pemerintahan sebelumnnya.

Di Indonesia kita mengenal juga mengenal Karina Sukarno Putri, putri mendiang presiden Sukarno dan Sari Dewi asal Jepang. Namun untuk menjabat sebagai Ketua Partai di Indonesia apalagi Presiden, rasanya mustahil terlaksana, mungkin juga Karina yang cerdas dan berkarisma ini juga tidak tertarik lagi dengan iklim perpolitikan di Indonesia. Walaupun tidak ada salahnnya bila ada partai besar yang akan mengusung dirinya. Begitu pula tentu rumit mengenai bahasa yang kurang lancar, syarat warga negara dan thethek bengek peraturan perundangan, yang pasti tambah ruwet. Jangan mimpi.....

Thursday, May 6, 2010

Sri Mulyani masih beruntung dari Burhanuddin Abdulah?



Ibu Sri Mulyani dilantik yang keduakalinya sebagai Menteri Keuangan di Kabinet Indonesia Bersatu pada Oktober 2009. Namun selang beberapa bulan mencuatlah kasus Bank Century yang menelan uang sebesar 6,7 trilyun telah menyeret nama Sri Mulyani sampai pemanggilan dirinya oleh DPR-RI, bak menginterogasi terdakwa yang berjalan cukup lama.

Kasus tersebut jelas menodai semua prestasi gemilang yang diraihnya, mulai dari terciptanya stabilitas makro ekonomi sampai penghargaan menteri terbaik di dunia dan lain-lain prestasi bertaraf global. Demo mahasiswa, khalayak setiap hari terjadi agar Sang maestro keuangan tersebut mundur dari jabatannya.

Pada akhirnya berita yang beredar pada tanggal 5-5-2010 di pagi hari tentang pengunduran dirinya pun menjadi pilihan. Dan menerima tawaran Bank Dunia menjabat sebagai Managing Director di kawasan Amerika latin, Karibia, Timteng, Asia Timur. Hal ini bagi ekonom dan dunia usaha sangat disayangkan, bahkan pasar sempat bereaksi negatif seperti melemahnya rupiah pada level Rp. 9.200 dari Rp.9.020 satu hari sebelumnnya. Namun bagi kalangan tertentu yang melek politik tentu sudah menduga bakal terjadi.

Kita sedikit menengok sejarah Bank Indonesia, dimana manatan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah yang memiliki prestasi cukup baik dan mampu membuat lembaga ini benar-benar independen, in flasi terkendali, nilai tukar stabil dan cadangan devisa meningkat. Namun sungguh diluar dugaan menjelang masa baktinya Burhanuddin, beliau tersandung kasus korupsi ditubuh BI yang sebenarnya kesalahan administratif ikut menandatangi talangan BLBI pada saat menjadi Deputy saat Gubernur BI dijabat Syahril Sabirin. KPK akhirnya memutuskan bersalah dan Burhanuddin menguni Rumah Tahanan Salemba.

Dari gambaran diatas, keduannya pemangku kepentingan di bidang keuangan dan moneter, memiliki karir gemilang, sama-sama kesalahan administratif yang mengakibatkan amblasnya uang yang keperuntukannya bukan semestinya. Namun ibu Sri Mulyani justru mendapatkan tawaran membanggakan di Lembaga Bank Dunia dan berkantor di jantung kota Amerika, Sedangkan Burhanuddin walau tidak menggunakan uang untuk pribadinya tetap harus menjalani hukuman pidana.

Selamat jalan ibu Sri Mulyani, semoga menjadi mediator yang baik antara Bank Dunia untuk kemaslahatan negara-negara berkembang di kawasan yang dipercayakan kepada Anda, terutama Indonesia. Sampai jumpa di tahun 2014 mungkin Andalah Satria Piningit bagi kami? Hanya Tuhan Yang Tahu.....

Friday, April 30, 2010

Pagelaran Tari 24 jam non stop!



Solo, kembali semarak! Pasalnya usai pilkada minggu lalu yang nyaris telak dimenangkan pasangan Joko Wi- FX.Rudiyanto dengan angka perolehan 90,2 % seperti yang dituturkan Joko Wi melalui SMS kepada penulis.

Tanggal 29 April 2010 Pemkot dan ISI Solo, menyelenggarakan pagelaran tari selama 24 jam. Acara ini dibuka oleh Walikota Solo dalam rangka memeringati Hari Tari Sedunia (World Dance Day). Panggung terbuka dengan berbagai tari muatan lokal dan negara tetangga disuguhkan untuk masyarakat Solo dan sekitarnya, mampu memorsikan Solo sebagai gudangnya warisan budaya.

Bukan hanya tari yang menarik, namun penginapan serta wisata kulinerpun saat acara digelar, terbukti menggerakkan roda perekonomian skala UMKM untuk mendulang rejeki. Seperti yang dituturkan Emmy Mahardini salah satu pemilik hotel Sanastri di Solo.

Semoga situasi demikian menjadi cerminan bagi daerah-daerah lainnya dalam membangun sebuah peradaban dalam wadah yang disebut Negara.


(Foto diambil dari Timlo dan Wisma Seni TBS)

Wednesday, February 17, 2010

Semuannya Image

Disadur dari torehan pena : "Sego Tiwul"

Segala sesuatu adalah imagi. Demikianlah perkataan Henri Bergson filsuf asal Perancis dalam karyanya yang berjudul Matter and Memory. Bahkan menurutnya tubuh, saraf-saraf dan otak kita hanyalah imagi atau gambar. Realitas dalam pemikirannya kemudian dipahami sebagai citra atau gambar yang terlihat dan terperangkap dalam pikiran (memori) atau kesadaran saja. Inilah yang memberikan semacam pemahaman tentang apa itu virtualitas dalam arti filsafat, ia adalah sesuatu yang terhubung secara langsung dengan realitas, yaitu sebagai manifestasi memori (ingatan murni) yang seluruhnya merupakan citra yang hadir dalam pikiran.

Pada zaman elektronik sekarang ini, konsep virtual mempunyai banyak arti. Selain dalam arti seperti tersebut di atas, dunia virtual juga sering disebut sebagai sebagai dunia simulasi; seperti yang dihadirkan oleh sinema atau komputer grafik. Ada pandangan lainnya yang mensejajarkannya dengan ruang saiber atau internet. Ada juga yang memahami dunia virtual sebagai informasi (teks) dan imagi yang dihadirkan oleh media (televisi, majalah atau koran), yang virtual dalam konteks ini merupakan (re)presentasi dari dunia aktual. Yang aktual divirtualkan.

Sebenarnya dari semua definisi di atas dipahami adanya satu kesamaan, bahwa yang virtual tak pernah hadir begitu saja ia selalu dikonstruksikan, manusia selalu memvirtualisasikan kenyataan. Proses virtualisasi bukanlah sesuatu yang sifatnya alamiah. Karena ia mengandaikan sebuah upaya menampilkan kembali secara etis, politis, dan estetis segala yang aktual (kenyataan sesungguhnya) ke dalam sebuah medium.

Karenanya wajar bila ada asumsi yang mengatakan bahwa dunia kehidupan sekarang terangkum dalam sebuah layar. Seseorang bisa saja melihat sesuatu secara langsung (real time) kejadian yang terjadi di belahan dunia lain. Untuk memperluas cakrawala perseptual, kita hanya memerlukan mata dan pikiran saja. Asumsi inilah yang mengantarkan kita pada sebuah ide tentang mutasi ontologi dalam sejarah kehidupan manusia. Realitas bergerak dinamis, walalaupun kita tidak menggerakkan tubuh. Kerlap-kerlip televisi (dan tentunya juga internet) dalam setiap rumah misalnya telah menyediakan ruang secara virtual dan aktual sekaligus.

Demikian juga ketika realitas hilang dalam gelap bioskop. Manusia berkerumun dan secara bersama-sama merasakan ekstase sinematik, merasakan emosi-emosi temporal (artifisial) yang distimulasi oleh gambar bergerak. Industri film yang telah menyebar sampai ke pelosok-pelosok negeri jelaslah memberikan sebuah gambaran betapa manusia tak puas dengan hidupnya yang biasa-biasa saja. Menonton film misalnya menjadi semacam ritus, gmanusia seperti ingin lari dari kenyataan, bukan mempelajarinya h demikian kata Rosalind William dalam bukunya The Dream World: Mass Consumption in Late Nineteeenth-Century.

Sekarang keterasingan yang sering digembar-gemborkan oleh kaum Ma**is tampaknya sudah mulai dijinakkan oleh penyebab keterasingan itu sendiri (relasi produksi). Kini kekuasaan kapitalis telah mengimunisasikan dirinya dan menguatkan cengkeramannya dengan memproduksi sesuatu yang dapat menangkal keterasingan yang diidap masyarakat posindustri; yakni film. Industri film (dan hiburan) juga telah merekam roh zaman—dengan mengartikulasikan, atau merepresentasikan sejarah secara dramatik dan artistik. Sejarah dalam arti tertentu divirtualkan lewat alat-alat teknologi. Inilah yang membuat Baudrillard secara profetik mengatakan tentang adanya semacam zaman di mana film dan sejarah menjadi tak terpisah dan terdefinisikan. Yaitu ketika kita tidak bisa mengetahui apakah gambar bergerak yang ditampilkan dalam film Ben-Hur si pangeran Yahudi itu ada pada zaman modern atau pada zaman kekaisaran Romawi awal abad Masehi. Ada semacam skizofrenia sejarah dalam virtualitas yang dihadirkan lewat film.

Dalam internet, yakni cyberspace, virtualitas menemukan bentuk sejatinya. Seseorang dalam ruang ini tidak saja menjadi penerima pasif informasi atau imagi (seperti dalam film atau acara televisi), tapi ia juga dapat dengan aktif memproduksinya; bahkan seseorang dapat memvirtualisasikan dunia dirinya. Ruang ini secara etis dan politis memang kacau balau, tapi tak dapat dimungkiri di sinilah kita mengerti secara tentatif apa itu kebebasan—dalam arti anarki atau kebebasan absolut. Kebebasan dikatakan ada dalam ruang cyber karena memang dalam ruang ini tak ada relasi kekuasaan yang menentukan sesuatu secara etis, estetis dan politis. Dari yang suci sampai yang terkutuk ada dalam ruang ini. Virtualisasi kenyataan dalam sinema, televisi atau internet dalam arti tertentu memang telah mengaburkan cara pandang manusia tentang dunianya. Yang aktual misalnya secara ontologis bisa melebur dengan yang virtual lewat teknologi satelit. Karenanya ia mempunyai efek yang cukup mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat.

Contoh jelas bagaimana ia secara etis mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat adalah virtualisasi teror. Virtualisasi teror terjadi ketika keadaan takut dan trauma akibat aksi teroris dihadirkan, disebarkan, dan gemakan kembali oleh media informasi; sehingga tercapailah tujuan utama dari teror. Wajarlah bila Derrida mengatakan, dalam penafsiran Giovanna Borradori (dalam bukunya Philosophy in a Time of Terror), bahwa media, juga kekuasaan politik tentunya, punya andil dan tanggung jawab untuk mereduksi dan menyebarkan teror. Derrida dalam hal ini sebenarnya mencoba menyampaikan bahwa esensi dari teror adalah ketakutan yang digemakan dan disebarkan. Inilah yang dipercaya olehnya sebagai emasa depan f terorisme; yakni serangan-serangan virtual.

Serangan virtual tentu tidak hanya informasi mencekam tentang bencana teror saja, tapi juga banyak lainnya. Misalnya rekayasa kultural guna mendukung laju dan kepentingan pasar global yang semakin hari semakin menjauhi nilai-nilai keadilan melalui film atau acara televisi. Dari sinilah kita ketahui bahwa virtualitas telah menjelma menjadi kekuatan yang menentukan nilai-nilai, atau, katakanlah, lokus utama diskursus. Ia dalam beberapa hal merupakan cermin yang memantulkan (yang terkadang membiaskan) gambaran kondisi masyarakat.

Imperium Imagi

Dalam diskursus posmodernisme, virtualitas (dalam konteks filsafat tentunya) menemukan padanannya secara politis dalam konsep imagologi. Imagologi adalah sebuah konsep yang diambil dari novel karya Milan Kundera yang berjudul Immortality. Berasal dari penggabungan makna kata imago dan logos, ia mempunyai arti logika imaginasi.

Memang agak sulit dimengerti menggabungkan kata imaginasi dan logika, karena kedua kata ini secara konseptual bertentangan. Namun karena fenomena imagologi melampaui sesuatu yang logis dan rasional, sulitlah menjelaskan di mana letak pertentangannya. Karena imagologi, seperti yang dipercaya oleh Milan Kundera dalam sketsa ceramahnya tentang Novel as Philosophical Vehicle sekarang telah berhasil mengatasi kekuatan ideologi. A surface essensialism (imagology) replacing a depth essensialism (ideology) demikian kata Kundera.

Imagologi hadir sebagai sesuatu yang menampilkan atau menggambarkan fenomena sosial dan tentunya objek-objek kultural dalam gambar dan tulisan; seperti industri pakaian, papan iklan, majalah, koran dan medium gambar lainnya. Secara tak sadar memang imagologi sekarang telah menjadi dan bahkan mengatasi ideologi; yaitu ketika ia menyatakan diri sebagai penggerak konsumerisme. Bahkan dalam ranah politik secara eksplisit imagologi memainkan peranan yang cukup besar.

Sekarang kita dapat saksikan misalnya bagaimana imagi-imagi—kepingan-kepingan realitas—tumpang tindih dalam majalah, koran, spanduk, papan reklame di sepanjang jalan yang kemudian membentuk semacam imagologi kehidupan masyarakat. Ia menjadi cermin yang menentukan gaya dan pola hidup, atau katakanlah roh zaman. Demikianlah kemudian muncul sebuah gagasan yang mengatakan bahwa industri iklan, media massa, desainer, stylist, arsitek dan tukang sablon lah pelaku-pelaku yang menciptakan kenyataan.

Sebagai manifestasi dari imaginasi yang berisi kata, tanda dan citra atau gambar, imagologi tak membedakan mana yang virtual dalam arti representatif-teknologis dan kenyataan aktual. Karena ia berada sekaligus dalam dua dunia yang bergerak maju secara dialeketis. Dua dunia ini adalah yang aktual dan yang virtual. Pergerakan ini memberikan penjelasan tentang adanya proses aktualisasi dan virtualisasi. Virtualisasi dalam konteks ini dapat dijelaskan sebagai kenyataan dalam permainan, keindahan dan normativitas yang dilogiskan menjadi imagi. Sedangkan aktualisasi (dalam arti imitasi) adalah ketika imagi-imagi menjadi rujukan sehingga ia dapat menentukan kenyataan sosial. Karenanya ia bisa disebut sebagai cermin yang memantulkan realitas sosial masyarakat.

Demikianlah imagologi menjadi ruh yang menggerakkan peradaban. Bila pada masyarakat zaman prasejarah, imagologi dimengerti sebagai objek-objek penyembahan yang sakral; sekarang pada masyarakat posindustri, imagologi menjadi kekuatan utama relasi produksi (konsumerisme). Yang baik, menentukan dan dapat dijual itu tergantung dari tampakkan luar atau sebatas imagi saja. Seperti diktum posmodern populer: kemasan adalah segalanya.

Thursday, December 31, 2009

Gus Dur Pantas menjadi Pahlawan Demokrasi.



Hingar bingar era reformasi yang mencapai puncaknya pada 21 Mei 1998 tepat umat Kristiani memperingati Hari Kenaikan "Isa Almaseh" dan peristiwa besar terjadi Presiden Suharto mengundurkan diri.
Sejarah tersebut tidak lepas dari ketokohan seorang Abdulrahman Wahid, Megawati, Akbar Tanjung, Amin Rais dan Sultan HB X yang selalu muncul sebagai penggerak reformasi.
Era Reformasi ini mengantarkan Gusdur menjadi Presiden RI periode 1999-2001 yang akhirnya diturunkan MPR melalui sidang istimewa, bagi beliau tidak menjadi masalah. Itulah jiwa besar seorang Gus Dur tanpa rasa dendam terhadap lawan politiknya.
Gus Dur tokoh ulama dari NU memiliki pemikiran yang tajam, cerdas dan visioner, bahkan beliau adalah di juluki Guru Bangsa sekaligus pelaku ajaran pluralisme yang handal. Pernyataan yang blak-blakan menjadi ciri khas dan terasa segar. Semua orang akan mengenal ucapan beliau disaat banyak masalah bangsa yang membelit dan tak segan mengecam pejabat negara yang melenceng dengan kata : GITU AJA KOK REPOT...sampai tertayang di acara Kick Andy beberapa waktu lalu.
Bagi kami sendiri mengenal Gus Dur secara dekat ketika berbincang dengan Ketua GP. Jamu Chrales Saerang dalam Acara Pulang Kampung Lebaran bersama Gus Dur dan pedagang jamu Gendong di DPP PKB Kalibata tahun 2007, beliau memberikan pencerahan dan dorongan pada pedagang jamu keliling sebagai pengusaha yang amat kecil namun pilar perekonomian UMKM apabila dikelola dengan intensif.
Di penghujung tahun 2009 tepatnya tanggal 30 Desember pukul 18.45 Gusdur telah wafat menghadap Sang Pencipta di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta.
Mengiringi jenasah dari rumah duka Ciganjur menuju pemakaman keluarga di Jombang. Tidak ada kata yang bisa bangsa Indonesia ungkapkan kecuali terimakasih Gus, Selamat jalan Anda layak mendapat gelar Pahlawan Demokrasi.

Sunday, November 15, 2009

Buaya vs Cicak sampai dengan APEC 2009



Suatu saat orang boleh berbicara, karena memiliki lidah yang terwakili secara representatif yaitu mulut. Maka ketika perseteruan antara KPK dan Institusi Kepolisian mencuatlah istilah cicak (KPK) dan buaya (Kepolisian) dari mulut seorang pejabat kepolisian, masyarakat merasa aneh dan mulai mengambil kesimpulan bahwa KPK akan tergusur pamornya, apalgi Ketua Antasari Azhar dimasukkan dalam wujud tersanga pembunuhan direktur RNI Banjaran Nasarudin beberapa waktu lalu. Istilah tersebut sementara mengendap, hanya sedikit samar-samar membaur ditelinga masyarakat Indonesia.

Namun ketika dua pimpinan KPK yaitu chandra Hamzah dan Bibit ditangkap dan dimasukkan ke penjara, mulailah demonstrasi mahasiswa, LSM yang intinya minta penahan keduannya di tangguhkan, dengan mengusung istilah cicak melawan buaya.
Berita menjadi gempar dan antusiasme masyarakat termasuk Facebooker menggelar 1.000.000 dukungan terhadap Chandra Bibit, setelah rekaman rekayasa pengebirian terbuka di hadapan Majelis Hakim Konstitusi. Hingar bingar ini kemudian membawa tim 8 yang terdiri dari para ahli hukum diketuai oleh Adnan Buyung Nasution ditunjuk Presiden untuk memberikan kejernihan kasus tersebut. Tim 8 pun merekomendasi kepada Presiden sebagai Kepala Negara, agar membatalkan tuntutan kepada Chandra dan Bibit, karena kurang kuatnya materi dakwaan serta Presiden tidak mencampuri proses hukum yang akan berlangsung.

Belum usai keterkejutan masyarakat tentang hal ini, Anggota DPR komisi III yang diketuai oleh fungsionaris partai Demokrat, memuji langkah polisi, hal ini sangat menyakiti hati masyarakat, terutama konstituennya. Selanjutnya munculnya Rani mantan caddy yang diajukan oleh Polisi sebagai saksi terhadap Antasari semakin menjengkelkan dan terasa ada skenario yang tidak pas antara keterangan perempuan tersebut dengan jalannya pembunuhan direktur RNI tersebut. Masyarakat segera menilai bahwa apa yang diucapkan saksi didepan Pengadilan atas tuntutan jaksa , terasa menghafalkan suatu puisi yang nampak dibuat-buat saat testimoni dilakukan oleh station TV Swasta minggu lalu.

Carut marut peradilan di Indonesia menyisakan rasa kecewa masyarakat, lembaga hukum serta menurunkan citra penegak hukum dimata dunia. Bertepaan dengan masih hangatnya berita rekayasa pelemahan KPK ini, Presiden SBY berangkat ke forum kerjasama di bidang ekonomi se Asia Pasifik, dengan optimisme tinggi menyambut pasar global 2010, seakan negaranya sudah siap bersaing terbuka, padahal infrastruktur seperti kelistrikan, jalan sarana transportasi cukup menyedihkan, begitu juga kesiapan pemerintah di bidang International Single Window belum memadai ungkap Edy Putra Irawady Deputy Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan kepada Kompas sebelumnnya, termasuk Singapore yang menyatakan keberatan. Disisi lain beberapa anggota forum mengritisi sikap Amerika yang tidak konsisten, karena justru melakukan proteksi untuk melindungi industri dan perdagangan domestik dan merupakan butir pelanggaran dari isi WTO nanti ( Kompas 15 Nopember 2009).

Penyelesaian terbaik masalah-masalah tersebut, tergantung kepada ketegasan dan niat baik Presiden kepada rakyatnya yang secara dejure memberi legitimasi kepemimpinan tersebut, untuk mewujudkan janji antara lain , membentuk pemerintahan yang adil, bersih dan memberi kesejahteraan bagi negara dan bangsa yg di pimpinnya. Karena jargon kampanye SBY terlanjur pro rakyat dan katakan TIDAK terhadap Korupsi.

Thursday, October 1, 2009

Gempa Sumbar




Gempa yang mengguncang kota Padang dan sekitarnya, dirasakan sejak pukul petang pada tanggal 30 September 2009, cukup mengenaskan. Gempa berkekuatan 7,6 SR itu melulunlantahkan rumah penduduk dan juga pusat kekgiatan perekonomian, seperti pasar swalayan dan toko-toko.
Getaran tersebut dirasakan sampai Malaysia dan Singapore.

Suatu peringatan dini bahwa bumi ini sudah rentan, kapan dan dimana saja kita tidak akan bisa menghindarinya, kecuali memiliki kemampuan melihat apa yang akan terjadi dengan pasti, memangnya sama dengan yang Menciptakan? Tentu tidak.

Dengan demikian kita tetap harus waspada dan berjaga-jaga, seandainya maut dan bencana sekalipun telah dekat dengan kita, miris dan was-was tentu sangat wajar, tetapi kehidupan selanjutnya pun tentu harus tetap dilalui. Muara tersebut akhirnya kita akan sampai pada ujungnya....kematian tubuh...cepat atau lambat pasti tiba.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberikan perlindungan dan kita tetap menyambut ajaran FirmanNya yang baik, agar bila sampai saatnya, visi kehidupan abadi menjadi kenyataan.
Belum terlambat......