Friday, November 12, 2010

Denting Jam Kukuk


Cerita lanjutan dari perempuan bernama Tasika, disajikan dalam sebuah rangkuman realita dan fiksi. Pemunculan tokoh lain, merupakan kelengkapan sebuah komunitas sosial dalam keseharian. Pasang surut gelombang perjalanan hidup, mewujudkan lakon setiap insan ciptaanNya.
Kehidupan sejatinya sebuah pilihan, masa lalu merupakan sejarah, saat ini sebuah realita sedangkan mendatang adalah teka teki.
Ia terus menyusuri masa, dari satu komunitas kekomunitas berikutnya, bahkan terkadang tidak menmukan persinggahan dan asa.

Sinopsis :
Langkah itu dibiarkan mengikuti kata hatinya, hingga suatu saat bertemu adiknya di Jerman, untuk sejenak menenangkan pikiran karena rasa ketidakadilan.
Komunitas forum kepedulian, menyadarkan jiwanya. Bahwa ketertindasan selalu dialmi oleh pihak yang lemah. Namun perempuan itu terus bersikap kritis. Kadangkala ia merasa penat, tenggelam dalam refleksi diri. Itulah kehidupan.
Waktu bergulir searah denting jam kukuk, tak seorangpun mampu membalikannya. Sekalipun dibeli Tasika nama gadis itu di jantung kota Wiesbaden.

Tuesday, October 26, 2010

Merapi Meletus Usai Tsunami Mentawai



Derita saudara-saudara kita, seperti tidak ada akhirnya. Tabrakan KA yang memakan korban jiwa beberapa minggu lalu terjadi disaat kita tidur nyenyak.Menelan korban jiwa lebih dari 30 orang. Banjir bandang di Wasior Papua Barat yang menelan korban jiwa lebih dari 100 orang meninggal dunia dan sebagian masih dalam pencarian,meninggalkan derita dan tangis bagi korban yang mengalaminya.
Belum siuman dari peristiwa tersebut, Jakarta ibukota Negara kita kembali direndam banjir, akibat curah hujan selama 3 jam pada tanggal 25 Oktober sore hari.Dan drainase banyak yang mampet dan tanggul jebol dll. Apapun alasannya yang jelas banjir selalu menjadi ancaman warga Jakarta.
Pada saat warga jakarta terjebak kemacetan yang luar biasa, pada jam 21 an, Pulau Mentawai terkena gempa berkekuatan 7,2 SR dan mengakibatkan Tsunami yang menelan korban lebih dari 100 orang dan 500 lebih orang hilang belum diketemukan. menyisakan kepedihan para korban dan hati kita.
Pada tanggal 26 Oktober 2010, Gunung Merapi meletus pada senjahari disaat orang akan beristirahat.Data masih dikumpulkan berapa korban jiwa yang terkena letusan tersebut.Mbah Marijan sang juru kunci sampai tulisan ini ditorehkan belum diketahui keberadaannya.
Baik Pemda dan Pemerintah Pusat sudah melakukan peninjauan ke lokasi-lokasi bencana.
Kita semua tidak mengetahui kapan musibah menimpa kita, oleh sebab itu marilah kita berbuat kebajikan dan selalu menaruh simpati kepada saudara-saudara kita yang berkesusahan, semampu kita.Juga doa kepada Tuhan semesta alam, agar diberikan perlindungan bagi kita semua.....amien.

Saturday, October 2, 2010

Bila Aparat Tendensi Membiarkan



Peristiwa Tarakan, membuat hati kita tersentuh, menangis. Ibu-ibu, anak-anak berbondong-bondong meninggalkan kampungnya. Setelah gebuk menggebuk antar etnis Warga asli dan keturunan suku Bugis terjadi. Lima warga didapati meninggal dunia karena tawuran ini, tanpa ada aparat yang melerai saat kejadian berlangsung.

Berita yang masih ditayangkan di media TV, sebuah bangunan dibakar masa yang sedang berselisih di Tarakan. Peristiwa di Jalan Ampera pun meletus. Tepat di depan pengadilan negeri Jakarta Selatan. Mereka membawa senjata tajam dan pestol pribadi. Lagi-lagi menelan tiga korban jiwa. Aparat Keamanan berdatangan setelah semua terjadi.

Kalau peristiwa demi peristiwa, menunjukkan kesenjangan sosial antara sikaya mungkin hasil korupsi dan simiskin karena terbatasnya lapangan pekerjaan. Semua gesekan terjadi kesannya diserahkan kepada tiap warga tanpa ada pendampingan, pengawalan dari pihak yang berwajib. Pertanyaannya untuk apa mereka dialokasikan anggaran dari APBN uang Negara?

Rasa aman dan tenteram selama ini didambakan oleh setiap orang akan mulai dipertanyakan. Pasalnnya kejadian tersebut, saat ini mudah terjadi. Apalagi bila benar ada yang ikut menyelam sambil minum air. Maka Negeri tercinta ini butuh perawatan serius. Kejenuhan, kemiskinan warga menambah mudahnya kelompok ini disulut emosi hanya perkara sepele.

Sebagai masukan kepada pemangku kekuasaan, agar sensitif dan tidak membiarkan peristiwa demi peristiwa yang menunjukan rendahnnya pendidikan, kurang berbudayanya suatu bangsa. Menghiasi sederet torehan sejarah yang menyedihkan di era Pemerintahan ini.

Semoga tiap keluarga, tokoh masyarakat, pengamat sosial, media dll dihimbau memberikan pencerahan, agar peristiwa seperti kasus Tarakan dan Ampera tidak terulang kembali.

Tuesday, September 14, 2010

Hari Raya Idul Fitri 1431 H



Indonesia yang mayoritas memeluk agama Islam. Diawali dengan "nyadran" atau ziarah kemakam leluhur untuk mengawali ibadah puasa dibulan Ramadhan. Ibadah puasa satu bulan penuh menahan lapar, dahaga serta godaan-godaan duniawi. Namun bagi yang dapat melalui dengan puja dan puji, akan mendapatkan pahala dari Tuhan Yang Maha Esa.

Ketika dihari terakhir puasa, maka Azan Magrib berkumandang, menandakan hari kemenanganpun tiba. Maka rasa syukur tiada tara, pagi hari setelah Subuh dilanjutkan Sholat Eid secara berjemaah, begitu bahagia dan damai.

Selanjutnya sebagai rasa ungkapan kasih sayang, mereka saling bermaaf maafan. Kalau istilah Jawannya "Ujung" ngabekti kepada orang tua atau yang lebih tua. Suasana demikian sangat dirindukan oleh seluruh umat manusia. Ketika Hari Lebaran tiba, tak jarang mereka mudik ke daerah asalnnya, untuk bersilaturahmi.

Demikian juga Pelaku usaha pun, tidak ketinggalan menyapa dengan ucapan syukur, baik dalam bentuk Iklan di media cetak maupun elektronik.

Semoga kerukunan antar umat di Indonesia khususnya dan dunia pada umumnnya, akan mewarnai setiap hati manusia, akan cinta damai penuh kasih sayang. Kata teman yang sekarang menjadi Ustadz di Bengkulu agar mendapatkan pemahaman "Rahmatan Lil Alamin"

"Selamat Idul Fitri 1431 H & Mohon Maaf Lahir Batin"

Tuesday, August 17, 2010

INDONESIA DI USIA 65 TAHUN



Lapangan Kawedanan Banyudono Kabupaten Boyolali, saat itu 17 Agustus 1973. Riuh dengan semangat menyala-nyala. Dihadiri sekolah-sekolah mulai dari SD, SMP dan SMU sekawedanan.

Kawedanan adalah istilah tempo dulu peninggalan Hindia Belanda, dimana sebelum Dati I ada jabatan Wedana yang membawahi beberapa Kecamatan yaitu Kecamatan Banyudono, Kecamatan sawit, Kecamatan Simo, Kecamatan Teras dan kecamatan Mojosongo. Entah mengapa seperti Karesidenan Surakarta juga membawai 5 titik Kabupaten dan 1 pusat kota sebagai otonomi residen.

Walaupun terasa terpusat dan tidak terdengar apalgi terbersit otonomi daerah seperti saat ini. Sejak tahun 2004 telah penuh sistem pemerintahan berubah total dari UUD45-Ke UUD 2002 dimana Pemilu langsung baik Legislatif, DPD, Presiden-Wakil, Walikota-Wakil, Bupati-Wakil dan Gubernur-wakil.
Namun Bendera Merah Putih yang berkibar di setiap tanggal 14 Agustus sebagai hari Pramuka, puncaknnya pada Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus.

Seusai peringatan upacara menaikkan bendera pada jam 10 pagi serta upacara penurunan bendera pada sore hari, tidak ada rasa bersungut-sungut ataupun terpaksa. Diwajah setiap murid tersebut.

Dijaman global ini rupannya waktu menggelinding begitu cepat, jangankan dirumah-rumah penduduk, didalam upacarapun pengibaran Sang Merah Putih terasa seadannya, tidak ada greget ataupun merasa memiliki, bangga terhadap sejarah perjuangan ketika benda itu pertama kali berkibar di Jl.Pegangsaan Timur oleh Sang Proklamator Soekarna-Hatta.

Seiring terjadinya antrean BBM, Harga-harga bahan pokok melambung,kenaikan tarif listrik sampai dengan jatuh korban ledakan tabung gas 3 kg, tindak kekerasan kepada masyarakat tertentu...mungkinkah hal itu yang membuat hati warga tidak peduli lagi Kemerdekaan Indonesia. Bahkan Petani miskin, Pedagang Pasar dan Nelayan apabila disentuh dalam suatu dialog mereka berujar, merdeka apa tidak sama saja. Nasib orang miskin semakin sulit, ah mau reformasi atau apa istilahnnya itu kan urusan para elit.

Begitulah suasana hati beberapa warga negara yang menyikapi, 65 tahun Negara kita merdeka. Semoga ditangan para generasi muda, sebagai estafit kepemimpinan yang akan datang, menjadi perenungan akan para pemimpin bangsa saat ini. Untuk cita-cita Kemakmuran seluruh bangsa dalam suatu ASA!
Dirgahayu Hari Jadi Republik Indonesia, terlalu sayang bila terus merintih didepan 237 juta jiwa yang bersemayam diatasnya.

Thursday, August 5, 2010

MDG's dalam wacana REDENOMINASI

Mileneum Development Goals, suatu cita-cita tiap negara dalam menyejahterakan warganya,melalui baik peningkatan kesehatan, meningkatkan pendidikan sampai mengurangi angka kemiskinan. Apabila kita menengok Pembukaan UUD'45 secara cermat,maka sandingkan cita-cita semangat mengangkat harkat,kesejahteraan warga negara
melalaui pembanganan perekonomianpun telah termanifes didalamnya.

Mengapa mesti China.
Hasil pengukuran MDG's atas nominasi tiap-tiap negara yang mengamini tercapainya cita-cita tersebut adalah CHINA,dng mengukir record sebagai negara tersukses mewujudkan MDG's tersebut dengan keberhasilannya mewujudkan kondisi PENGURANGAN KEMISKINAN dari 350 juta jiwa ke jumlah separonya unt periode 2009,dan diprediksi angka kemiskinan akan menurun ditahun tahun mendatang.
China negara komunis terbesar di dunia dengan penduduk milyaran,tdk saja mampu mengangkat citra bangsanya melalui Perekonomian tetapi didukung juga dng pengembangan teknologi baik di bidang industri maupun komunikasi. Reformasi birokrasi dilakukan sehingga di era milenium ini investasi di negara tirai bambu tersebut terancam kekurangan energi.Unt memperlambat perekonomian China agar dunia bisa berkembang Ia rela mendevaluasi nilai Yuan thd mata uang asing khususnya Amerika yang menekannya beberapa tahun lalu.Bahkan PDB China melaju hampir 9% di tahun 2009 disaat dunia meradang karena krisis.
Indonesa konon juga mencapai cita-cita tersebut, bedanya terletak pada defacto warga negaranya banyak mengalami kesulitan, terlihat dari rendahnya pengetahuan dan pendidikan yang mengejawantah bentuknya sebagai korban meledaknya tabung gas setiap saat tanpa dapat menghindarinya, karena tidak ada pilihan, pasrahkah? mungkin!

Redenominasi Rupiah.
Dua hari yang lalu sebelum opini ini dituliskan, Pejabat Sementara Darmin Nasution mengungkapkan rencana BI akan meredenominasi rupiah secara bertahap mulai tahun 2012. Penulis tidak mengerti mengapa situasi surplus hanya di cermati dari membaiknya perekonomian dari sektor keaungan,bukan PDB di sektor riil. Dengan demikian penyederhanaan digit rupiah di sinyalir bukan keputusan BI secara tepat dan preoritas, tetapi lebih dari kebingungan unt mengintervensi rupiah agar tidak menguat,walaupun sudah terlambat menembus angka psikologi di bawah angka Rp.9000,- per USD. Ini berkaitan dengan kesepakatan IMF-RI saat krisis tahun 1997-1998 puncaknya.Bahwa RI nenganut Kurs mengambang. Walaupun saat itu Presiden Suharto telah mengajukan rate tetap dalam waktu tertentu atas dasar konsultasi dng Prof.Jeffri namun tetap ditolak IMF.

Solusi.
BI sebaiknya memreoritaskan tugas pokok yaitu mendorong dan kontrol penyaluran kredit karena rupiah menumpuk di sektor keuangan/ SBI,Simpan kepada dunia usaha khususnya UMKM dan mekanisme cepat melalui bank bank komersial,walaupun sebagian besar bank bank kita dimiliki swasta asing. Ke dua menjaga stabilitas inflasi pada angka aman. Ketiga menjaga keselarasan nilai tukar rupiah dengan mata uang asing,untuk kepentingan expor kita.

Terlalu dini melakukan redenominasi saat kemiskinan mengancam khususnya pasca perdagangan bebas kawasan ASEAN-China, kecuali ada agenda khusus kethokan/pemotongan uang seperti tempo dulu th 1965 karena inflasi melebihi 400% atau jangan- jangan inflasi kita memang tinggi tetapi terekam hanya 4-5%.
Belajarlah dari China yang komunis tetapi mengendalikan perdagangan global di setiap lini sektor. Agar Negara kita yang kaya SDA,SDM bisa menguasai salah satu sektor saja mis Agroindustri.Semoga...