

Lapangan Kawedanan Banyudono Kabupaten Boyolali, saat itu 17 Agustus 1973. Riuh dengan semangat menyala-nyala. Dihadiri sekolah-sekolah mulai dari SD, SMP dan SMU sekawedanan.
Kawedanan adalah istilah tempo dulu peninggalan Hindia Belanda, dimana sebelum Dati I ada jabatan Wedana yang membawahi beberapa Kecamatan yaitu Kecamatan Banyudono, Kecamatan sawit, Kecamatan Simo, Kecamatan Teras dan kecamatan Mojosongo. Entah mengapa seperti Karesidenan Surakarta juga membawai 5 titik Kabupaten dan 1 pusat kota sebagai otonomi residen.
Walaupun terasa terpusat dan tidak terdengar apalgi terbersit otonomi daerah seperti saat ini. Sejak tahun 2004 telah penuh sistem pemerintahan berubah total dari UUD45-Ke UUD 2002 dimana Pemilu langsung baik Legislatif, DPD, Presiden-Wakil, Walikota-Wakil, Bupati-Wakil dan Gubernur-wakil.
Namun Bendera Merah Putih yang berkibar di setiap tanggal 14 Agustus sebagai hari Pramuka, puncaknnya pada Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus.
Seusai peringatan upacara menaikkan bendera pada jam 10 pagi serta upacara penurunan bendera pada sore hari, tidak ada rasa bersungut-sungut ataupun terpaksa. Diwajah setiap murid tersebut.
Dijaman global ini rupannya waktu menggelinding begitu cepat, jangankan dirumah-rumah penduduk, didalam upacarapun pengibaran Sang Merah Putih terasa seadannya, tidak ada greget ataupun merasa memiliki, bangga terhadap sejarah perjuangan ketika benda itu pertama kali berkibar di Jl.Pegangsaan Timur oleh Sang Proklamator Soekarna-Hatta.
Seiring terjadinya antrean BBM, Harga-harga bahan pokok melambung,kenaikan tarif listrik sampai dengan jatuh korban ledakan tabung gas 3 kg, tindak kekerasan kepada masyarakat tertentu...mungkinkah hal itu yang membuat hati warga tidak peduli lagi Kemerdekaan Indonesia. Bahkan Petani miskin, Pedagang Pasar dan Nelayan apabila disentuh dalam suatu dialog mereka berujar, merdeka apa tidak sama saja. Nasib orang miskin semakin sulit, ah mau reformasi atau apa istilahnnya itu kan urusan para elit.
Begitulah suasana hati beberapa warga negara yang menyikapi, 65 tahun Negara kita merdeka. Semoga ditangan para generasi muda, sebagai estafit kepemimpinan yang akan datang, menjadi perenungan akan para pemimpin bangsa saat ini. Untuk cita-cita Kemakmuran seluruh bangsa dalam suatu ASA!
Dirgahayu Hari Jadi Republik Indonesia, terlalu sayang bila terus merintih didepan 237 juta jiwa yang bersemayam diatasnya.