Tuesday, July 13, 2010

Nasionalisme di Era Perdagangan bebas China-ASEAN



Harian Suara Karya, 13 Juli 2010.

Kata nasionalisme sudah tidak asing lagi ditelinga kita, bahkan setiap warga negara dengan fasih menuturkannya, terlebih dijaman keterbukaan saat ini. Para Petinggi negeri ini , para pelaku usaha dan jajarannya lebih getol menyuarakan istilah nasionalisme.
Nasionalisme Fatamorgana.
Pandangan sempit tentang nasionalisme acapkali menyeruak dan gegap gempita, ketika merasa bisa menyuarakan anti asing secara hantam kromo, seakan-akan kita telah memahami benar itu adalah ukuran seseorang berjiwa nasionalis.
Sebagai ilustrasi warganegara Indonesia pernah tersinggung, marah dan reaktif kepada Malaysia yang disinyalir mencuri tari pendet asal pulau Bali. Demonstrasi marak di seantero tanak air, mulai dari turun ke jalan, pembakaran simbol-simbol kenegaraan negara Jiran tersebut maupun melalui media jejaring internet seperti email, blogspot, facebook,twiteer dll yang sangat populer beberapa tahun belakangan ini. Pun demikian perang argumen dan kata-kata kasar dikeluarkan oleh warga negara Malaysia tidak kalah sinisnya sebagai respon atas reaksi keras kita.
Pertanyaan sederhana, apakah sikap dan tindakan tersebut benar-benar yang dimaksud sebagai penganut paham nasionalisme? Mari kita berpikir jernih dan kepala dingin, seandainya rasa bangga kepada negara tumbuh dan mengakar di jiwa kita, semestinya pelecehan yang dilakukan oleh negara tetangga yang sejak sebelum kita merdeka, telah menjadi kepanjangan tangan negara adikuasa untuk memonitor perkembangan Indonesia. Semua tidak terlepas dari campur tangan penyelenggara negara baik pemerintah, lembaga legislatif, lembaga penegak hukum dan masyarakat Indonesia. Melalui pendidikan dan budaya yang memadai, warga negara akan semakin dewasa serta memiliki wawasan luas dalam berbangsa dan bernegara untuk merawat, menghargai dan mencintai aset sendiri. Yang terjadi justru kemunduran, menurut data pemeringkat dunia HDI (Human Development Index) Indonesia turun ke urutan 126 dibawah Vietnam. Gambaran tersebut tersirat dari saudara-saudara kita kurang mampu mengenyam bangku sekolah, alih-alih sampai tingkat sarjana untuk sampai tingkat SMU saja mereka terbeban biaya, jalan keluar yang ditempuh terpaksa menjadi buruh kontrak musiman (outsourching). Program nasionalisasi gas ukuran 3 kg menjadi teror warga kurang mampu yang setiap hari meledak dan memakan korban jiwa. Contoh lain peristiwa Kosambi, Cengkareng beberapa bulan lalu , hanya permasalahan sepele yaitu serempetan antara mobil dan sepeda motor berakibat pembakaran satu komplek perumahan warga yang bertikai dan terjadilah pemanggangan manusia yang tidak berdaya akibat beringasnya warga lain yang merasa benar. Suatu paradoks di jaman sistem komunikasi modern yang mudah diakses dengan media apapun, justru pihak berwajib terlambat melerai perselisihan yang menelan korban jiwa, diduga alasan HAM apabila mengambil sikap represip.
Disisi lain praktik korupsi seperti kasus Bank Century, penggelapan pajak kasus Gayus Tambunan selalu saja terjadi. Praktik-pratik semacam itu semakin marak luas lebar terbentang di negeri yang kaya SDA ini. Apakah perilaku demikian adalah nasionalis serta mengecam negara Jiran bak pahlawan. Sementara para pejabat tersebut menari diatas penderitaan warganya yang tidak mampu mengenyam pendidikan layak, sebagai syarat standar kepegawaian? Dan banyaknya korban akibat ledakan gas ukuran ekonomis tersebut, menunjukkan pelaksanaan program pemerintah dilakukan secara serampangan. Begitu pula pertanyaan pilu yang berkecamuk di hati nurani kita, dimanakah peran negara ketika akan terjadi pembakaran warga terlambat mencegahnya? Ataukah nasionalisme fatamorgana yang sedang tumbuh berkembang di negeri ini.
CAFTA (China ASEAN Free Trade Agreement).
Pasca penandatanganan kerjasama pasar bebas kawasan China dan Asean tahun 2004 oleh pemerintah sebelumnnya. Beberapa kali kajian terhadap kerjasama tersebut telah dilakukan oleh unsur pemerintah yang masih memiliki hati nurani dengan kesimpulan sebagai berikut. Ketika liberalisasi perdagangan kita lakukan secara unilateral pada tahun 1984-1994, melalui kebijakan deregulasi dan debirokratisasi, ternyata dapat meningkatkan perekonomian bangsa. Tetapi ketika liberalisasi Indonesia banyak didasarkan permintaan-prmintaan internasional termasuk IMF, maka perekonomian menjadi terpuruk, bahkan krisis ekonomi yang terjadi sejak 1997, merupakan hasil nyata. Oleh karenanya “guidance” dari pemegang kekuasaan sangat diperlukan sebelum kita melanjutkan perundingan-perundingan FTA, karena para perunding yang terlibat didalamnya diprakarsai oleh negara lain seperti US-Singapore Free Trade Agreement, China- Asean Free Trade Agreement, ASEAN-Japan Free Trade Agreement, ASEAN-India Free Trade Agreement dll. Agar Pemerintah sangat berhati-hati karena keputusan tersebut akan mempertaruhkan kepentingan rakyat banyak dan masa depan perekonomian kita (Edy Putra Irawady, 2004).
Sebagai tindak lanjut kesepakatan G to G tersebut, Pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan N0. 235/PMK.011/2008. Dan berlaku penuh pada tanggal 1 januari 2010. Konsekuensi dari perjanjian ini semua negara anggota memberlakukan impor-ekspor barang dengan biaya masuk nol.
Peran pelaku usaha di Indonesia.
Kajian dan masukan diatas ternyata tidak menyurutkan pemangku kekuasaan, untuk tetap melakukan perundingan kerjasama CAFTA dan membuat pelaku usaha nasional kuatir akan kebanjiran produk negara lain, khususnya produk murah dari China sehingga akan sulit bersaing di pasar negeri sendiri.
Kekuatiran tersebut semakin meresahkan ketika Amerika belum pulih dari krisis keuangan, yang merembet kenegara-negara Eropa dan Asia kecuali China, sehingga ekspor Indonesia sejak tahun 2009 mulai menurun. Pada tahun 2010 disusul krisis Yunani dan mengakibatkan paniknya masyarakat Uni Eropa disebabkan anjloknnya nilai obligasi dan turunnya tingkat kepercayaan terhadap mata uang Euro, sehingga kebijakan yang kurang populer untuk pengamanan ekonomi Eropa diterapkan secara ketat, antara lain efisiensi dibidang fiskal meningkatkan pajak, memangkas tunjangan pegawai dll, otomatis Indonesia yang masih memiliki pertumbuhan PDB positif jauh lebih baik dari negara-negara maju lainnya, yang rata-rata memiliki pertumbuhan negatif, menjadi sasaran ekspor negara lain. Pada tahun 2009 PDB Indonesia 3,5 %, Jerman -3,3, Irlandia -14,3%, Yunani -13,5%, Spanyol – 11,2 %, Portugal -9,4 %, Inggris -11,3% dll (Kompas 14 Juni 2010).
Sinergisitas antara Kementrian terkait dibawah Menko Perekonomian dan pelaku usaha nasional,dilakukan secara alot dan maraton. Pada akhirnya para pihak menyepakati pembahasan perlindungan kebijakan non tarif terhadap 18 sektor industri antara lain alas kaki & sepatu, mainan anak-anak, tekstil & pakaian jadi, besi baja, elektronik, kosmetik, jamu dll khusus impor barang jadi.
Deregulasi dari revisi peraturan sebelumnya yang mengatur perdagangan barang dituangkan dalam Permendag No. 22/M-DAG/PER/5/ 2010 Tentang “Kewajiban Pencatuman Label Pada Barang” dan Permendag No. 23/M-DAG/PER/5/ 2010 Tentang “Ketentuan Impor Produk Tertentu”. Kesepakatan tersebut dinilai beberapa kalangan sebagai langkah maju pemangku kekuasaan dalam perlindungan non tarif bagi industri nasional. Hal ini sangatlah wajar, seperti Uni Eropa baru-baru ini melakukan proteksi non tarif, terhadap ekspor ikan indonesia dengan menerapkan standar uji antibiotik. Namun demikian peran pelaku usaha tidak boleh berhenti sampai disini, perlu mengawal pelaksanaan di lapangan, karena impor ilegal yang merugikan negara masih tetap marak masuk pasar Indonesia, melalui celah-celah yang telah menjadi lahan subur bagi pihak-pihak tertentu di bumi Nusantara ini, sebagai tantangan para pihak yang disebut kaum nasionalis.

Monday, June 28, 2010

SOLO Kota Budaya dan Sosok FX.Rudianto


Turun dari pesawat GA222 tanggal 7 juni 2010, udara pegunungan Merbabu yang membalut bandara Adi Sumarmo Solo, terasa sejuk. Pemandangan disekelilingnya seperti dialam pedesaan yang masih banyak sawah terbentang luas.

Ketika rombongan akan meninggalkan ruang penjemputan, salah satu Supervisor Solo berbisik, itu ada orang no 2, tadi satu pesawat dengan kami. lalu tanpa pikir panjang dan rasa sungkan kami menghampiri priyayi (orang-Bhs Jawa) yang dimaksud tadi.

Selamat siang pak Rudi, suara kami hampir tidak terdengar karena ramainnya pengunjung. Setelah membalikkan badan pak Rudipun dengan senyum khas dan kumis tebal menyapa dengan ramahnnya. Seperti kami sudah bertahun-tahun mengenalnya, tetapi tidak! Kami baru berkenalan 2 tahun silam saat ada World International Conference di kota ini.

Sosok FX. Rudianto sepintas terkesan sangar dan galak, namun ketika berbincang mengenai pembangunan ekonomi, khususnya menghadapi hambatan yang melibatkan UMKM, beliau sangat antusias. Seperti upacara kirab pemindahan pasar klitikan barang bekas Banjasari dengan memakai kirab kuda dengan cara win win solution. Begitu juga kami menitipkan keserasian pasar tradisional ditengah pesatnya pasar modern, Mall-Mall yang apabila tidak ditata akan menimbulkan ketidakadilan seperti yang terjadi di Jakarta beberapa tahun lalu, sampai terwujud aturan Perpres 112 tahun 2007 dan Permendag 53 tahun 2008, yang mengatur tentang "Penataan dan Pembinaan Pusat Perbelanjaan Pasar tradisional dan Toko Modern"

Berbicara masalah gudang kebudayaan, beliau dengan antusias ingin memajukan pemahaman kesenian dalam arti luas yang berbasis warisan budaya dan tidak serta merta anti asing, seperti Keroncong, seni tari dll, yang pada prinsipnya dapat mengembangkan industri kreatif terutama berbasis warisan leluhur yang memberikan manfaat bagi wargannya.

Beliau ini juga masih tercatat sebagai Diakond Gereja Katholik Purbayan, seperti penuturan via telpon usai percakapan di Bandara yang sempat terhenti. Dan sebagai penutup bincang-bincang pagi itu, beliau menungkapkan sd Desember ada berbagai kegiatan mulai menjadi tuan rumah konferensi perumahan se Asia, Batik Carnival, SIPA, SIEM, Ultah Kompas dll. Harapan kita semua semoga pasangan ini terus mengutamakan kesejahteraan warganya, termasuk warga Bantaran Bengawan Solo yang masih ada beberapa kendala, semoga segera dituntaskan secara damai.



Friday, June 25, 2010

Yulia Giralld Asal Imigran Inggris Jadi PM Australia



Ket Gambar :
Kiri Yulia Giralld, kanan Karina Sukarno Putri

Munculnya nama Yulia Girrald di dunia perpolitikan di negara kanguru tidak asing lagi. Perempuan imigran dari Inggirs ini sejak remaja memang sudah berani melawan arus, seperti protes kepadasalah satu guru di bangku SMU, karena hal gender keutamaan bagi siswa laki-laki . Sebagai anggota parlemen dimulai pada tahun 1998 dari partai Buruh.

Ketika Partainya kalah dalam pemilu tahun 2001, Giralld menarik diri dari hiruk pikuk pemberitaan media, dan sebagai ketua bidang urusan kependudukan, di kabinet bayangan, hingga pada tahun 2006 resmi mencalonkan sebagai wakil pemimpin partai.

Perempuan lajang ini terpilih sebagai Perdana Menteri Perempuan pertama di Australia 24 Juni 2010 yang sebelumnnya memangku jabatan sebagai wakil PM Rudd sejak partai buruh menang pada tahun 2007. Sebelumnnya pernah menjabat Menteri Tenaga Kerja dan mrenghidupkan kembali pasal UU tentang buruh yang sempat dihapuskan oleh pemerintahan sebelumnnya.

Di Indonesia kita mengenal juga mengenal Karina Sukarno Putri, putri mendiang presiden Sukarno dan Sari Dewi asal Jepang. Namun untuk menjabat sebagai Ketua Partai di Indonesia apalagi Presiden, rasanya mustahil terlaksana, mungkin juga Karina yang cerdas dan berkarisma ini juga tidak tertarik lagi dengan iklim perpolitikan di Indonesia. Walaupun tidak ada salahnnya bila ada partai besar yang akan mengusung dirinya. Begitu pula tentu rumit mengenai bahasa yang kurang lancar, syarat warga negara dan thethek bengek peraturan perundangan, yang pasti tambah ruwet. Jangan mimpi.....

Thursday, May 6, 2010

Sri Mulyani masih beruntung dari Burhanuddin Abdulah?



Ibu Sri Mulyani dilantik yang keduakalinya sebagai Menteri Keuangan di Kabinet Indonesia Bersatu pada Oktober 2009. Namun selang beberapa bulan mencuatlah kasus Bank Century yang menelan uang sebesar 6,7 trilyun telah menyeret nama Sri Mulyani sampai pemanggilan dirinya oleh DPR-RI, bak menginterogasi terdakwa yang berjalan cukup lama.

Kasus tersebut jelas menodai semua prestasi gemilang yang diraihnya, mulai dari terciptanya stabilitas makro ekonomi sampai penghargaan menteri terbaik di dunia dan lain-lain prestasi bertaraf global. Demo mahasiswa, khalayak setiap hari terjadi agar Sang maestro keuangan tersebut mundur dari jabatannya.

Pada akhirnya berita yang beredar pada tanggal 5-5-2010 di pagi hari tentang pengunduran dirinya pun menjadi pilihan. Dan menerima tawaran Bank Dunia menjabat sebagai Managing Director di kawasan Amerika latin, Karibia, Timteng, Asia Timur. Hal ini bagi ekonom dan dunia usaha sangat disayangkan, bahkan pasar sempat bereaksi negatif seperti melemahnya rupiah pada level Rp. 9.200 dari Rp.9.020 satu hari sebelumnnya. Namun bagi kalangan tertentu yang melek politik tentu sudah menduga bakal terjadi.

Kita sedikit menengok sejarah Bank Indonesia, dimana manatan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah yang memiliki prestasi cukup baik dan mampu membuat lembaga ini benar-benar independen, in flasi terkendali, nilai tukar stabil dan cadangan devisa meningkat. Namun sungguh diluar dugaan menjelang masa baktinya Burhanuddin, beliau tersandung kasus korupsi ditubuh BI yang sebenarnya kesalahan administratif ikut menandatangi talangan BLBI pada saat menjadi Deputy saat Gubernur BI dijabat Syahril Sabirin. KPK akhirnya memutuskan bersalah dan Burhanuddin menguni Rumah Tahanan Salemba.

Dari gambaran diatas, keduannya pemangku kepentingan di bidang keuangan dan moneter, memiliki karir gemilang, sama-sama kesalahan administratif yang mengakibatkan amblasnya uang yang keperuntukannya bukan semestinya. Namun ibu Sri Mulyani justru mendapatkan tawaran membanggakan di Lembaga Bank Dunia dan berkantor di jantung kota Amerika, Sedangkan Burhanuddin walau tidak menggunakan uang untuk pribadinya tetap harus menjalani hukuman pidana.

Selamat jalan ibu Sri Mulyani, semoga menjadi mediator yang baik antara Bank Dunia untuk kemaslahatan negara-negara berkembang di kawasan yang dipercayakan kepada Anda, terutama Indonesia. Sampai jumpa di tahun 2014 mungkin Andalah Satria Piningit bagi kami? Hanya Tuhan Yang Tahu.....

Friday, April 30, 2010

Pagelaran Tari 24 jam non stop!



Solo, kembali semarak! Pasalnya usai pilkada minggu lalu yang nyaris telak dimenangkan pasangan Joko Wi- FX.Rudiyanto dengan angka perolehan 90,2 % seperti yang dituturkan Joko Wi melalui SMS kepada penulis.

Tanggal 29 April 2010 Pemkot dan ISI Solo, menyelenggarakan pagelaran tari selama 24 jam. Acara ini dibuka oleh Walikota Solo dalam rangka memeringati Hari Tari Sedunia (World Dance Day). Panggung terbuka dengan berbagai tari muatan lokal dan negara tetangga disuguhkan untuk masyarakat Solo dan sekitarnya, mampu memorsikan Solo sebagai gudangnya warisan budaya.

Bukan hanya tari yang menarik, namun penginapan serta wisata kulinerpun saat acara digelar, terbukti menggerakkan roda perekonomian skala UMKM untuk mendulang rejeki. Seperti yang dituturkan Emmy Mahardini salah satu pemilik hotel Sanastri di Solo.

Semoga situasi demikian menjadi cerminan bagi daerah-daerah lainnya dalam membangun sebuah peradaban dalam wadah yang disebut Negara.


(Foto diambil dari Timlo dan Wisma Seni TBS)

Wednesday, February 17, 2010

Semuannya Image

Disadur dari torehan pena : "Sego Tiwul"

Segala sesuatu adalah imagi. Demikianlah perkataan Henri Bergson filsuf asal Perancis dalam karyanya yang berjudul Matter and Memory. Bahkan menurutnya tubuh, saraf-saraf dan otak kita hanyalah imagi atau gambar. Realitas dalam pemikirannya kemudian dipahami sebagai citra atau gambar yang terlihat dan terperangkap dalam pikiran (memori) atau kesadaran saja. Inilah yang memberikan semacam pemahaman tentang apa itu virtualitas dalam arti filsafat, ia adalah sesuatu yang terhubung secara langsung dengan realitas, yaitu sebagai manifestasi memori (ingatan murni) yang seluruhnya merupakan citra yang hadir dalam pikiran.

Pada zaman elektronik sekarang ini, konsep virtual mempunyai banyak arti. Selain dalam arti seperti tersebut di atas, dunia virtual juga sering disebut sebagai sebagai dunia simulasi; seperti yang dihadirkan oleh sinema atau komputer grafik. Ada pandangan lainnya yang mensejajarkannya dengan ruang saiber atau internet. Ada juga yang memahami dunia virtual sebagai informasi (teks) dan imagi yang dihadirkan oleh media (televisi, majalah atau koran), yang virtual dalam konteks ini merupakan (re)presentasi dari dunia aktual. Yang aktual divirtualkan.

Sebenarnya dari semua definisi di atas dipahami adanya satu kesamaan, bahwa yang virtual tak pernah hadir begitu saja ia selalu dikonstruksikan, manusia selalu memvirtualisasikan kenyataan. Proses virtualisasi bukanlah sesuatu yang sifatnya alamiah. Karena ia mengandaikan sebuah upaya menampilkan kembali secara etis, politis, dan estetis segala yang aktual (kenyataan sesungguhnya) ke dalam sebuah medium.

Karenanya wajar bila ada asumsi yang mengatakan bahwa dunia kehidupan sekarang terangkum dalam sebuah layar. Seseorang bisa saja melihat sesuatu secara langsung (real time) kejadian yang terjadi di belahan dunia lain. Untuk memperluas cakrawala perseptual, kita hanya memerlukan mata dan pikiran saja. Asumsi inilah yang mengantarkan kita pada sebuah ide tentang mutasi ontologi dalam sejarah kehidupan manusia. Realitas bergerak dinamis, walalaupun kita tidak menggerakkan tubuh. Kerlap-kerlip televisi (dan tentunya juga internet) dalam setiap rumah misalnya telah menyediakan ruang secara virtual dan aktual sekaligus.

Demikian juga ketika realitas hilang dalam gelap bioskop. Manusia berkerumun dan secara bersama-sama merasakan ekstase sinematik, merasakan emosi-emosi temporal (artifisial) yang distimulasi oleh gambar bergerak. Industri film yang telah menyebar sampai ke pelosok-pelosok negeri jelaslah memberikan sebuah gambaran betapa manusia tak puas dengan hidupnya yang biasa-biasa saja. Menonton film misalnya menjadi semacam ritus, gmanusia seperti ingin lari dari kenyataan, bukan mempelajarinya h demikian kata Rosalind William dalam bukunya The Dream World: Mass Consumption in Late Nineteeenth-Century.

Sekarang keterasingan yang sering digembar-gemborkan oleh kaum Ma**is tampaknya sudah mulai dijinakkan oleh penyebab keterasingan itu sendiri (relasi produksi). Kini kekuasaan kapitalis telah mengimunisasikan dirinya dan menguatkan cengkeramannya dengan memproduksi sesuatu yang dapat menangkal keterasingan yang diidap masyarakat posindustri; yakni film. Industri film (dan hiburan) juga telah merekam roh zaman—dengan mengartikulasikan, atau merepresentasikan sejarah secara dramatik dan artistik. Sejarah dalam arti tertentu divirtualkan lewat alat-alat teknologi. Inilah yang membuat Baudrillard secara profetik mengatakan tentang adanya semacam zaman di mana film dan sejarah menjadi tak terpisah dan terdefinisikan. Yaitu ketika kita tidak bisa mengetahui apakah gambar bergerak yang ditampilkan dalam film Ben-Hur si pangeran Yahudi itu ada pada zaman modern atau pada zaman kekaisaran Romawi awal abad Masehi. Ada semacam skizofrenia sejarah dalam virtualitas yang dihadirkan lewat film.

Dalam internet, yakni cyberspace, virtualitas menemukan bentuk sejatinya. Seseorang dalam ruang ini tidak saja menjadi penerima pasif informasi atau imagi (seperti dalam film atau acara televisi), tapi ia juga dapat dengan aktif memproduksinya; bahkan seseorang dapat memvirtualisasikan dunia dirinya. Ruang ini secara etis dan politis memang kacau balau, tapi tak dapat dimungkiri di sinilah kita mengerti secara tentatif apa itu kebebasan—dalam arti anarki atau kebebasan absolut. Kebebasan dikatakan ada dalam ruang cyber karena memang dalam ruang ini tak ada relasi kekuasaan yang menentukan sesuatu secara etis, estetis dan politis. Dari yang suci sampai yang terkutuk ada dalam ruang ini. Virtualisasi kenyataan dalam sinema, televisi atau internet dalam arti tertentu memang telah mengaburkan cara pandang manusia tentang dunianya. Yang aktual misalnya secara ontologis bisa melebur dengan yang virtual lewat teknologi satelit. Karenanya ia mempunyai efek yang cukup mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat.

Contoh jelas bagaimana ia secara etis mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat adalah virtualisasi teror. Virtualisasi teror terjadi ketika keadaan takut dan trauma akibat aksi teroris dihadirkan, disebarkan, dan gemakan kembali oleh media informasi; sehingga tercapailah tujuan utama dari teror. Wajarlah bila Derrida mengatakan, dalam penafsiran Giovanna Borradori (dalam bukunya Philosophy in a Time of Terror), bahwa media, juga kekuasaan politik tentunya, punya andil dan tanggung jawab untuk mereduksi dan menyebarkan teror. Derrida dalam hal ini sebenarnya mencoba menyampaikan bahwa esensi dari teror adalah ketakutan yang digemakan dan disebarkan. Inilah yang dipercaya olehnya sebagai emasa depan f terorisme; yakni serangan-serangan virtual.

Serangan virtual tentu tidak hanya informasi mencekam tentang bencana teror saja, tapi juga banyak lainnya. Misalnya rekayasa kultural guna mendukung laju dan kepentingan pasar global yang semakin hari semakin menjauhi nilai-nilai keadilan melalui film atau acara televisi. Dari sinilah kita ketahui bahwa virtualitas telah menjelma menjadi kekuatan yang menentukan nilai-nilai, atau, katakanlah, lokus utama diskursus. Ia dalam beberapa hal merupakan cermin yang memantulkan (yang terkadang membiaskan) gambaran kondisi masyarakat.

Imperium Imagi

Dalam diskursus posmodernisme, virtualitas (dalam konteks filsafat tentunya) menemukan padanannya secara politis dalam konsep imagologi. Imagologi adalah sebuah konsep yang diambil dari novel karya Milan Kundera yang berjudul Immortality. Berasal dari penggabungan makna kata imago dan logos, ia mempunyai arti logika imaginasi.

Memang agak sulit dimengerti menggabungkan kata imaginasi dan logika, karena kedua kata ini secara konseptual bertentangan. Namun karena fenomena imagologi melampaui sesuatu yang logis dan rasional, sulitlah menjelaskan di mana letak pertentangannya. Karena imagologi, seperti yang dipercaya oleh Milan Kundera dalam sketsa ceramahnya tentang Novel as Philosophical Vehicle sekarang telah berhasil mengatasi kekuatan ideologi. A surface essensialism (imagology) replacing a depth essensialism (ideology) demikian kata Kundera.

Imagologi hadir sebagai sesuatu yang menampilkan atau menggambarkan fenomena sosial dan tentunya objek-objek kultural dalam gambar dan tulisan; seperti industri pakaian, papan iklan, majalah, koran dan medium gambar lainnya. Secara tak sadar memang imagologi sekarang telah menjadi dan bahkan mengatasi ideologi; yaitu ketika ia menyatakan diri sebagai penggerak konsumerisme. Bahkan dalam ranah politik secara eksplisit imagologi memainkan peranan yang cukup besar.

Sekarang kita dapat saksikan misalnya bagaimana imagi-imagi—kepingan-kepingan realitas—tumpang tindih dalam majalah, koran, spanduk, papan reklame di sepanjang jalan yang kemudian membentuk semacam imagologi kehidupan masyarakat. Ia menjadi cermin yang menentukan gaya dan pola hidup, atau katakanlah roh zaman. Demikianlah kemudian muncul sebuah gagasan yang mengatakan bahwa industri iklan, media massa, desainer, stylist, arsitek dan tukang sablon lah pelaku-pelaku yang menciptakan kenyataan.

Sebagai manifestasi dari imaginasi yang berisi kata, tanda dan citra atau gambar, imagologi tak membedakan mana yang virtual dalam arti representatif-teknologis dan kenyataan aktual. Karena ia berada sekaligus dalam dua dunia yang bergerak maju secara dialeketis. Dua dunia ini adalah yang aktual dan yang virtual. Pergerakan ini memberikan penjelasan tentang adanya proses aktualisasi dan virtualisasi. Virtualisasi dalam konteks ini dapat dijelaskan sebagai kenyataan dalam permainan, keindahan dan normativitas yang dilogiskan menjadi imagi. Sedangkan aktualisasi (dalam arti imitasi) adalah ketika imagi-imagi menjadi rujukan sehingga ia dapat menentukan kenyataan sosial. Karenanya ia bisa disebut sebagai cermin yang memantulkan realitas sosial masyarakat.

Demikianlah imagologi menjadi ruh yang menggerakkan peradaban. Bila pada masyarakat zaman prasejarah, imagologi dimengerti sebagai objek-objek penyembahan yang sakral; sekarang pada masyarakat posindustri, imagologi menjadi kekuatan utama relasi produksi (konsumerisme). Yang baik, menentukan dan dapat dijual itu tergantung dari tampakkan luar atau sebatas imagi saja. Seperti diktum posmodern populer: kemasan adalah segalanya.

Thursday, December 31, 2009

Gus Dur Pantas menjadi Pahlawan Demokrasi.



Hingar bingar era reformasi yang mencapai puncaknya pada 21 Mei 1998 tepat umat Kristiani memperingati Hari Kenaikan "Isa Almaseh" dan peristiwa besar terjadi Presiden Suharto mengundurkan diri.
Sejarah tersebut tidak lepas dari ketokohan seorang Abdulrahman Wahid, Megawati, Akbar Tanjung, Amin Rais dan Sultan HB X yang selalu muncul sebagai penggerak reformasi.
Era Reformasi ini mengantarkan Gusdur menjadi Presiden RI periode 1999-2001 yang akhirnya diturunkan MPR melalui sidang istimewa, bagi beliau tidak menjadi masalah. Itulah jiwa besar seorang Gus Dur tanpa rasa dendam terhadap lawan politiknya.
Gus Dur tokoh ulama dari NU memiliki pemikiran yang tajam, cerdas dan visioner, bahkan beliau adalah di juluki Guru Bangsa sekaligus pelaku ajaran pluralisme yang handal. Pernyataan yang blak-blakan menjadi ciri khas dan terasa segar. Semua orang akan mengenal ucapan beliau disaat banyak masalah bangsa yang membelit dan tak segan mengecam pejabat negara yang melenceng dengan kata : GITU AJA KOK REPOT...sampai tertayang di acara Kick Andy beberapa waktu lalu.
Bagi kami sendiri mengenal Gus Dur secara dekat ketika berbincang dengan Ketua GP. Jamu Chrales Saerang dalam Acara Pulang Kampung Lebaran bersama Gus Dur dan pedagang jamu Gendong di DPP PKB Kalibata tahun 2007, beliau memberikan pencerahan dan dorongan pada pedagang jamu keliling sebagai pengusaha yang amat kecil namun pilar perekonomian UMKM apabila dikelola dengan intensif.
Di penghujung tahun 2009 tepatnya tanggal 30 Desember pukul 18.45 Gusdur telah wafat menghadap Sang Pencipta di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta.
Mengiringi jenasah dari rumah duka Ciganjur menuju pemakaman keluarga di Jombang. Tidak ada kata yang bisa bangsa Indonesia ungkapkan kecuali terimakasih Gus, Selamat jalan Anda layak mendapat gelar Pahlawan Demokrasi.