Sunday, February 6, 2011
IVAN DAVIS & EUGENE ORMANDY & Philadelphia Orchestra play FRANZ LISZT "...
The BIG Concert Of EUGENE ORMANDY
Saturday, February 5, 2011
Friday, February 4, 2011
Mesir dan Indonesia Menuju Demokrasi?


Beberapa hari ini dunia dikejutkan dengan situasi politik di negara, yang terkenal budaya dan modernisasi sejak jaman Cleopatra. Siapa yang tidak mengenal wanita cantik dari kekaisaran Firaun itu? Mode rambut panjang, poni didahi, perawakannya nyaris sempurna. Bahkan di tahun 70 an,mode ini menyeruak ke belahan dunia. Hikayat Nabi Yusuf menggambarkan suatu negara yang berperadaban maju, melimpahnya gandum selama 7 tahun, menjadi tumpuan negara-negara disekelilingnya, tidak ketinggalan bangsa Israel.
Untuk wisata, stupa, piramida melambangkan identitas dunia, dengan mudah orang mengatakan "Mesir".
Apa yang terjadi disana, saat artikel dituliskan? Adalah suatu keadaan kisruh, keruh antara pemerintah dibawah presiden Hosni Mubarak yang sudah lama memimpin negara tersebut dengan rakyatnya yang menghendaki dirinya mundur dari jabatannya. Alasan korup, memperkaya diri dan kroninya. Harga bahan pangan naik, gerakan rakyat Mesir didukung oposisi, menuntut demokrasi.
Lepas pro dan kontra, hal ini pernah di alami Indonesia di tahun 1998. Atas kesepakatan dengan Amerika dalam mediasi IMF, pak Harto yang sudah memerintah 32 tahun akhirnya mundur. Namun syarat yang diajukan IMF pada waktu itu Camdessus mengajukan kesepakatan antara RI dan IMF yang intinya, Indonsia harus menyetujui kesepakatan-kesepakatan antara lain, pencabutan segala bentuk subsidi, merubah Konstitusi secara demokratis s/d penutupan Bank-bank yang tidak perform, serta pembayaran hutang-hutangnya yang sudah jatuh tempo melalui privatisasi asset BUMN.
Dan sekarang Indonesia menapaki babak demokrasi sesuai LOI, hasilnya bisa dirasakan kaum reformis, kebebasan dalam berpendapat,Pemilu, Pemilu kada sd tingkat Kabupaten dan Kotamadya.Namun apakah hal tersebut menunjukkan korupsi reda? Silahkan menyikapi kasus Century dan Mafia Pajak saat ini.
(Foto diambil dari sumber internet. Gb.1 situasi di Mesir. Gb 2. Situasi Indonesia Mei 1998).
Saturday, January 15, 2011
Liburan di akhir Tahun.

















Suatu hal yang tidak dibayangkan sebelumnya. Melancong ke negara lain tentu membutuh kan penyesuaian budaya dan cuaca. Akhir-akhir ini apa yang di namakan "global warming" sudah terjadi. Indonesia sendiri telah beberapa kali mengalami perubahan cuaca yang sulit diprediksi antara lain, hujan sepanjang tahun 2010, mengakibatkan kesulitan khususnya di sektor Pertanian. Terjadinya bencana alam mulai tsunami Mentawai, banjir bandang Wasior dan terakhir meletusnya gunung Merapi dan gunung Bromo. Bumi mulai mencari keseimbangan dan ini mengakibatkan lipatan permukaan bumi bergeser pada posisi tertentu.
Demikian pula Eropa diakhir tahun 2010 terjadi badai salju, sehingga penerbangan beberapa kali ditunda bahkan dihentikan, sejak 1 Desember 2010 hingga tanggal 1 januari 2011. Suatu hal yang selama ini adalah munculnya salju di Belanda pada minggu ke dua bulan Desember 2010, padahal negara itu cukup rendah dibandingkan Prancis dan Jerman.
Kami sekeluarga tetap melaksanakan liburan ke Jerman dan Swiss sesuai jadual. Beruntunglah pada tanggal 18 Desember 2010 pesawat Etihad maskapai penerbangan milik Abudabi mendarat dengan mulus,disuhu minus 5. Namun esok hari sampai dengan Natal bandara Frankfurt buka tutup tergantung cuaca.
Kami mengunjungi Toko jam Kukuk di Wiesbaden, Aachen Uni Teknik Elektro ditengah badai salju, hingga mobil berjalan 20km/jam dan macet total.
Kami merayakan Natal benar2 "White Christmas" terakhir terjadi di tahun 1979.
Dari Wiesbaden ke Heidelberg melihat Musium dan perpustakaan milik Universitas setempat. Kota dingin belahan Jerman ini banyak peninggalan purbakala. Meneruskan perjalanan ke Black Forest perbatasan Swiss, merupakan tanah pertanian dan peternakan. Semua hamparan memutih karena salju tidak henti-hentinya turun bertaburan, bagaikan kapas. Teetese tempat wisata dan sekaligus untuk arena Ski, banyak anak-anak muda bersama keluarganya dari berbagi Negara melancong ke kota ini.
Mobil terus meluncur ke atas ke kota Treeberg menuju Museum alat-alat kerajinan dan alat musik seperti piano, pakaian raja,jam kukuk,radio tempo dulu dll. Setelah itu malam permainan musik dan kesenian setempat di gelar diatas bukit padasebuah jembatan, air itu seperti grejokan sewu Tawang Mangu,yang dikelilingi salju.
Rhine Wall,pancuran besar di Swiss perbatasan Black Forest, kota tenang berkabut dan bersih. Udara sangat dingin namun indah lekuk-lekuk jalannya.
Mainz kota kecil antara Weisbaden dan Frankfurt terdapat Dom yang luas dan sangat artistik, kami mengunjungi dan sempat menyalan lilin.
Rossdorf kota kecil seperti Candi daerah Semarang, memutih, kami sempat bertamu disitu dan akhir tahun di rayakan di Weiterstadt masih wilayah kota Damrstadt.Tepat pada pukul 00 kami menaikkan Puji-pujian dan doa secara Oikumene di rumah saudara.
Liburan akhir tahun ini sungguh mengesankan, ada 7 keluarga dan sahabat yang dikunjungi yaitu : Wiesbaden, Aachen,Damrstad,Rossdorf, Heidelberg dan Black Forest.
Friday, November 12, 2010
Denting Jam Kukuk

Cerita lanjutan dari perempuan bernama Tasika, disajikan dalam sebuah rangkuman realita dan fiksi. Pemunculan tokoh lain, merupakan kelengkapan sebuah komunitas sosial dalam keseharian. Pasang surut gelombang perjalanan hidup, mewujudkan lakon setiap insan ciptaanNya.
Kehidupan sejatinya sebuah pilihan, masa lalu merupakan sejarah, saat ini sebuah realita sedangkan mendatang adalah teka teki.
Ia terus menyusuri masa, dari satu komunitas kekomunitas berikutnya, bahkan terkadang tidak menmukan persinggahan dan asa.
Sinopsis :
Langkah itu dibiarkan mengikuti kata hatinya, hingga suatu saat bertemu adiknya di Jerman, untuk sejenak menenangkan pikiran karena rasa ketidakadilan.
Komunitas forum kepedulian, menyadarkan jiwanya. Bahwa ketertindasan selalu dialmi oleh pihak yang lemah. Namun perempuan itu terus bersikap kritis. Kadangkala ia merasa penat, tenggelam dalam refleksi diri. Itulah kehidupan.
Waktu bergulir searah denting jam kukuk, tak seorangpun mampu membalikannya. Sekalipun dibeli Tasika nama gadis itu di jantung kota Wiesbaden.
Subscribe to:
Posts (Atom)