Monday, May 18, 2020

Komunikasi Pandemi Corona Dan Upaya Membangkitkan Kelesuan Ekonomi

                                            Oleh Farida Dwi Cahyarini Dewas LPER
Penulis Sekjen KOMINFO 2015-2018 Saat memimpin Rapat ITU

Dampak dari terjadinya wabah Covid-19 tidak hanya sekedar penyakit yang mempengaruhi kesehatan, namun juga dampak secara ekonomi. Rerata penjualan pada pelaku usaha turun drastis  50% lebih bahkan ada yang sudah gulung tikar, akibat pembatasan mobilitas masyarakat, baik lokal maupun global, guna memutus penyebaran virus.
Kemunculan virus corona telah memaksa perubahan perilaku masyarakat, baik dari kalangan pelaku usaha, jurnalistik, karyawan, guru,dosen dan pelaku  semua sektor .
Usaha mikro,kecil, dan menengah (UMKM) justru menjadi sektor paling rentan kena hantaman pandemi virus corona. Sektor ini disebut para ekonom tidak bisa lagi menjadi penyangga perekonomian seperti saat krisis ekonomi dan keuangan tahun 1998. Pada saat itu UMKM bisa menyerap tenaga kerja dan menggerakan perekonomian. Menurut Ekonom senior Institute for Development of Economic and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati bahwa saat pandemi Covid-19 sektor ini (UMKM) tetap tidak bisa menahan krisis yang disebabkan Covid-19.  Situasi sektor selain UMKM misalnya sektor pariwisata  juga sangat terpukul dengan pandemi ini. Direktur World Travel and Tourism Council (WTTC) Gloria Guevara mengatakan bahwa wabah ini menghadirkan ancaman serius terhadap industri pariwisata.
Menerima Produk UMKM dari LPER & GMB Sebelum Covid-19
Pernyataan ini diberikan setelah sebelumnya ribuan penerbangan international dibatalkan dan beberapa perusahaan asuransi menolak adanya nasabah baru untuk asuransi perjalanan. Hal ini mengakibatkan sektor pariwisata lumpuh sementara, sehingga pengangguran semakin bertambah karena pariwisata merupakan salah satu wadah yang memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar tempat wisata maupun masyarakat dari luar. Bukan hanya sektor pariwisata yang mengalami kelumpuhan sementara tetapi karyawan dari jenis perusahaan lainnya ikut merasakan dampak dari pandemi Covid-19.  Banyak karyawan telah dirumahkan dan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) karena kurangnya pembelian dan dibatasi ekspor ke negara tertentu sehingga menghambat ekspor dan mengurangi pendapatan perusahaan atau bahkan merugi dan gulung tikar.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menetapkan status keadaan darurat Covid-19 sampai dengan 29 Mei 2020. Pada sisi lain dalam forum KTT Luar Biasa G-20 secara virtual, Presiden Joko Widodo mengajak pemimpin G-20 untuk berperang melawan Covid-19 yang telah melanda ratusan negara serta pelemahan ekonomi akibat pandemi global ini. Wabah penyakit Covid-19 ini menjadi sesuatu yang luar biasa karena tidak terlepas dari peran teknologi komunikasi dan informatika. Tingkat persebaran informasi yang cepat menimbulkan kepanikan yang dahsyat di masyarakat. Implikasinya membuat perilaku masyarakat berubah. Kepanikan tersebut salah satunya mengakibatkan ketimpangan dari sisi keseimbangan permintaan dan penawaran. Semua tidak ingin kondisi seperti ini terus menerus berlangsung dan semakin parah. Momen inipun jangan sampai dijadikan pintu masuk kebrutalan kekecewaan terhadap pemerintah. Dibutuhkan penanganan serius dan bijaksana .
(sumber : studi Board of Innovation & BBC)
Memasuki periode new normal. Covid-19 akan mendorong perubahan kebijakan ekonomi dan politik dunia kedepan.Begitu juga prospektif,sikap,dan perilaku masyarakat yang akan turut berubah, seperti konsep bekerja, budaya,hidup sehat,aktivitas belanja dll.

Lalu bagaimana komunikasi yang harus pemerintah jalankan untuk menyampaikan kebijakan-kebijakannya?
Komunikasi diwaktu krisis atau komunikasi krisis sangat penting. “ Banyak taktik public relations konvensional, ternyata tidak berkontribusi untuk mengelola krisis dengan baik (Marra, 1992). Komunikasi yang dilakukan dengan baik dan dilaksanakan dengan benar, terintegrasi ke dalam setiap tahap krisis dan tanggap darurat, dapat membantu mengurangi hal yang dikhawatirkan masyarakat.
Kerjasama LPER dan Donatur untuk Tenaga Medis
Paling penting yang harus dilakukan adalah bersikap responsif dan suportif. Menjadi sarana informasi terpercaya bagi masyarakat, dorong komunikasi positif, dan dukung kebijakan pemerintah termasuk meniadakan kegiatan yang sifatnya mengumpulkan massa (offline ). Komunikasi dipastikan tidak memberi pesan yang bertentangan yaitu memastikan semua komunikasi berjalan melalui koridor komunikasi yang ditunjuk.
Pemerintah dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika selalu menekankan kepada jurnalis melalui Optimisme jurnalis di era Covid-19 yaitu tiga hal penting dalam profesi jurnalis : Integritas, cara kerja dan motivasi kerja, sehingga peran jurnalis dan institusi sangat penting. Spirit jurnalisme tidak akan pudar karena pandemi Covid-19, walau banyak yang terdampak, namun muncul peluang baru disektor lain, yaitu TV Jiurnalism dan Online Journalism
Dengan munculnya peluang baru saat pandemi Covid-19 antara lain :
·         Terjadi perubahan perilaku masyarakat dalam menggunaan media
·         Durasi konsumsi media televisi meningkat dari rata-rata 40 menit sehari menjadi 4-5 jam sehari. Selain itu jumlah kepemirsaan juga meningkat tajam untuk program berita,fim,musik, dan siaran untuk anak. Akibatnya, televisi menerima peningkatan belanja iklan
·         Lalu lintas informasi tentang Covid-19 disajikan di berbagai online platform sehingga
layanan streaming, pesan instan, media sosial, browsing.
Selain komunikasi dari jurnalis, dan sejak jutaan orang memilih untuk mengisolasi diri dan mengalihkan interaksi sosial mereka pada platform digital. Aplikasi video chat menjadi primadona dalam situasi krisis seperti ini misal Zoom, Webex meeting, Skype dan masih banyak lagi saluran komunikasi yang marak saat ini.
Lalu, bagaimana mengkomunikasikan kondisi UMKM dan ekonomi digital Indonesia di masa pandemi COVID-19?
Mengutip pidato Menkominfo dalam webinar Digital Kick-Off Grab Venture Velocity Angkatan III di Jakarta 15 Mei 2020 yaitu : Dalam situasi yang sulit ini , memang terdapat  banyak tantangan, tetapi juga banyak kesempatan untuk mempercepat perwujudan masyarakat digital Indonesia (Menkominfo, 2020) . Dari data yang ada terdapat peningkatan transaksi online sebesar 30% di berbagai katagori sektor e-commerce dan startup marketplace. Di sektor kesehatan, terjadi peningkatan pengguna dan pengunjung aplikasi telehealth sebesar 600%.
Beberapa bentuk komunikasi dalam masa pandemi Covid-19 antara lain peluncuran Gerakan Nasional #BanggaBuatan Indonesia oleh Presiden Joko Widodo Kamis 14 Mei 2020 melalui konferensi virtual merupakan suatu bentuk komunikasi diwaktu krisis yang sangat efektive. Dalam acara tersebut presiden mendorong agar masyarakat ikut membeli produk-produk karya anak bangsa selama pandemi Covid-19. Dalam masa pandemi, salah satu strategi yang paling penting adalah inovasi produk dan inovasi usaha, demikian Teten Masduki dalam acara Webinar Unpad pada tanggal 15 Mei 2020.
Rudiantara, Menkominfo periode 2015-2019 dalam Webinar Bicara Data Virtual Series: New Normal, New Way” yang digelar Katadata pada 16 Mei 2020, menurutnya para pemilik modal tidak akan menghentikan investasi demi mendapatkan keuntungan maksimal. Sebab, penyimpanan dana perbankan dinilai kurang menguntungkan di tengah tren bunga rendah.
Jika memperhatikan situasi saat pandemi Covid-19 utamanya untuk membantu sektor UMKM selain memanfaatkan komunikasi digital yang efektive, harus juga  melakukan strategi inovasi agar usahanya efisien, sekaligus melihat peluang-peluang baru .


No comments: