Monday, September 8, 2008

Dua Srikandi yang berbeda pandangan


Marie Elka Pangestu menilai Harmonisasi Asean kosmetik, lebih cepat di laksanakan akan lebih baik, terlebih setelah di desak oleh Perkosmi ( Persatuan Perusahaan Kosmetik Indonesia) yang didirikan oleh Dr. BRA. Mooryati Soedibyo. Menurut Ketum sekarang Tonny Pranatajaya, Indonesia akan merasa tertinggal dengan Vietnam dan Singapura, apabila menunda proses notifikasi tersebut. Bahkan Mendag akan mengeluarkan peraturan perdagangan bebas bagi kosmetika Indonesia.

Namun secara tegas Siti Fadilah Supari menolak Harmonisasi Asean Kosmetika ini, sebab setelah peraturan tersebut keluar, maka setiap perusahaan asing yang telah mendapat bukti notifikasi, maka semua kosmetik yang di hasilkan perusahaan tersebut dapat semua bebas masuk Indonesia. Katakan Singapore, Vietnam, Brunai dll pasarnya berapa orang? Sedangkan Indonesia yang jumlah penduduknya besar akan menjadi sasaran pemasaran produk mereka. Dan belum tentu setiap perusahaan kosmetik adalah perusahaan besar yang mampu CPKB dan GMP. Bagaimana dengan UMK? apa tega membiarkan mereka tergilas persaingan yang tidak seimbang?

4 comments:

KK said...

Bu Menkes memang hebat

APPSI said...

Mestinya Bu Siti Fadillah yang jadi Menteri Perdagangan, urusan trading term bakal beres, urusan dikotomi ritel modern vs tradisional kelar......Setyo Edy

sestri said...

Sangat tepat, karena ekonomi global penciptanya kena batunya, USA batuk.

KARTONO said...

Dua menteri berbeda pendapat tentang kebijakan pemerintah di ranah publik, menunjukkan bahwa fungsi koordinasi oleh pimpinannya tidak jalan, he, he. Sibuk tebar pesona.