Saturday, September 13, 2008

Rendahkah Menjadi Petani?

 Ketika saya merasa jenuh dan penat menghadapi kesemrawutan, kepadatan dan kemacetan jalan raya di ibukota Jakarta, dimana hal itu tidak mungkin dihindari karena aktivitas sehari-hari membutuhkan sarana jalan menuju tempat kerja, dan juga setumpuk permasalahan pekerjaan yang harus segera diselesaikan.
 Maka tidak ada salahnya kalau pada hari libur digunakan untuk refreshing sekedar menghirup udara segar yang dapat menyejukan hati dan pikiran walaupun hanya beberapa jam lamanya. Daerah Ciawi Bogor menjadi tempat pilihan tepatnya dibelakang Wisma Kinasih, sejuk sekaligus menikmati pemandangan panorama Gunung Salak, terbentang sawah-sawah yang mulai menghijau kerena usai masa panen, namun ada beberapa petak yang dibiarkan tidak ditanami.

Keluhan Petani.

 Terdorong oleh perasaan ingin mengetahui keadaan yang tenang dan kepolosan dari penduduk setempat yang kebetulan sedang duduk santai di lincak bangku dari papan sederhana saya memutuskan untuk bergabung bersama mereka sembari menikmati makan kacang kulit.

 Salah seorang diantara mereka masih muda sekitar umur 27 tahun, menuturkan mengapa sawah-sawah tersebut ada yang sengaja tidak ditanami padi padahal tanahnya lumayan subur? Alasannya sederhana akan dijual, petani disini tidak mampu lagi mengolah sawahnya kerena harga pupuk mahal, upah buruh mahal, sedang hasil panen tidak laku dijual kalaupun laku harganya tidak menutup modal kerjanya. Padahal hasil panennya kalau digarap dengan baik tidak kalah dengan kualitas beras impor.

 Anak muda tersebut lugu namun memiliki pengetahuan yang cukup, rupanya dia sekarang beralih profesi dari petani menjadi pedagang makanan dan ternak ayam, menjadi petani menurutnya ibarat predikat yang rendah dan kurang dihargai. Dia bercerita bahwa, bangunan-bangunan kosong itu sambil menunjukan jarinya kearah sebelah kanan bekas kandang-kandang ayam sudah kosong, yang terpaksa gulung tikar karena isu flu burung beberapa waktu ini, dia terkena pukulan 2 ( dua ) kali sebagai petani merugi, sebagai pedagang juga merugi karena harus membayar hutang-hutangnya sementara penjualan pakan ternak dan ayam terus menurun.

 Kuperhatikan raut wajahnya bersih, tutur katanya santun dan akhirnya melanjutkan pembicaraan lagi pada intinya akan menjual sawahnya untuk menambah modal kerja. Ada rasa penyesalan dan menggugat terhadap nasibnya sebagai petani, apa yang salah dengan Pemerintah ini? Bukannya pemerintah akan merevitalisasi pertanian? Namun kenyataan di lapangan memandang petani sebelah mata. Jangankan ada penyuluhan dari dinas pertanian di lihatpun juga tidak.

 Suasana cukup hening dan saling merenung dengan pikiran dan analisis masing-masing, lalu untuk mencairkan kebisuan saya menanyakan untuk terakhir kali kalau penduduk sekitar sini menjual lahan sawahnya lalau bagaiamana untuk menutup kebutuhan sehari-hari? Anak muda itu menjawab ,ya gali lubang tutup lubang mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan, memang dampak kenaikan BBM pada bulan Oktober lalu sangat memukul nasib mereka. Mau protes ya paling tidak didengarkan oleh penguasa , kalau keadaan terus memburuk paling-paling bom waktu kerawanan sosial. Rasanya harapan untuk perubahan lebih baik jauh dari jangkauan dan merupakan barang langka bagi petani dan rakyat seperti kami. Contoh sarana jalan didepan itu diaspal berkat swadaya para pembeli lahan pertanian tersebut.

 Dalam perjalanan pulang menuju Jakarta, setelah mendapat gambaran tentang ceita diatas,  saya terus berpikir kenapa negeri yang subur tidak deberikan subsidi untuk revitalisasi pertanian melalui pembangunan irigasi pertanian, jalan masuk menuju perkotaan, penyuluhan pemilihan bibit padi, penggunaan pupuk alternative (organic), penyemprotan hama seperti di era tahun 70 an dengan padi PB 5, PB 10, IR, Bimas dll.

 Kesungguhan revitalisasi Pertanian.

Sementara untuk memenuhi stock beras, untuk ketahanan pangan bulog harus mengimpor beras dari luar negeri tentu dengan alasan lebih murah, stock menipis yang baru hangat diberitakan media cetak dan elektronik di Negara tercinta akhir-akhir ini dengan segala kontroversinya karena kuantitasnya melebihi ketetapan izin impor Menteri perdagangan. Mungkin dapat dibenarkan pada saat gagal panen atau adanya bencana alam dilakukan impor untuk menjaga stock beras nasional. Pertanyaan kenapa disaat panen raya Bulog tetap ngotot impor beras? Apakah tidak dilakukan rekonsiliasi data yang benar antara Biro Pusat Statistik (BPS) dan data Departemen Pertanian supaya akurat karena ini menyangkut pengeluaran pemerintah. Sangat ironis apa yang terjadi di Papua terjadi kelaparan yang merenggut 55 korban jiwa meninggal dunia, padahal pulau itu pengahsil dan penyumbang terbesar pada Negara untuk hasil tambang emas dan minyak. 

Petani yang seharusnya dapat hidup makmur, terpandang di negara agraris seperti Indonesia, dipandang rendah dan termarjinalkan dibandingkan dengan para pedagang yang siap menjadi tukang tadah beras impor yang dibeli dari bulog. Disisi lain pemerintah melakukan pencabutan subsidi BBM dan akan membangun kilang-kilang minyak yang konon masih banyak dimiliki Negeri ini untuk mengurangi ketergantungan impor, namun mengapa untuk petani justru diperlakukan sebaliknya. Ironis…dimana kesengguhan revitalisasi pertanian ?

Jakarta, 30 Desember 2006.

Oleh. Francisca Sestri. G 




 

1 comment:

Lilis Mulyani said...

Bagus dan menyentuh.